JHOLOPIS.COM, JAKARTA – Kasus komentar nirempati dokter makin panas. IDI menegaskan kelelahan kerja bukan alasan mengabaikan etika dan empati kepada pasien.
Gelombang kritik terhadap sejumlah tenaga kesehatan yang diduga melontarkan komentar menyakitkan kepada pasien BPJS Kesehatan belum juga mereda.
Di tengah sorotan publik yang terus membesar, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) akhirnya mengeluarkan sikap tegas yaitu kelelahan fisik maupun mental (burnout) bukan alasan untuk mengabaikan etika profesi atau menyakiti pasien lewat media sosial.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa dokter tetap dituntut menjaga profesionalisme, bahkan ketika menghadapi tekanan kerja yang tinggi.
Menurut PB IDI, empati kepada pasien adalah bagian dari profesi yang tidak bisa ditawar.
Polemik bermula dari unggahan almarhum Yusrizal Tri Chaerawan, peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), yang mengeluhkan lamanya menunggu ruang rawat inap.
Keluhan itu justru dibalas dengan sejumlah komentar yang dinilai bernada merendahkan dan tidak memiliki empati.
Beberapa komentar yang viral bahkan memicu kemarahan publik karena dianggap telah melampaui batas.
Peristiwa tersebut tidak hanya menjadi perbincangan di media sosial, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar mengenai etika komunikasi tenaga kesehatan di ruang digital.
Wakil Ketua Umum PB IDI, dr Wiweka, mengatakan organisasi profesi memahami bahwa dokter dan tenaga kesehatan dapat mengalami tekanan kerja yang berat.
Namun, kondisi tersebut tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melupakan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar profesi kedokteran.
“Burnout bisa saja terjadi. Tetapi dalam menjalankan praktik profesinya, seorang dokter tetap wajib mengedepankan etika. Itu tidak bisa ditawar,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) telah mengatur kewajiban dokter menjaga kesehatan fisik maupun mental agar mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien.


