HOLOPIS.COM, JAKARTA – BPJS Kesehatan mengklaim bahwa mereka tidak pernah mendapatkan keuntungan setiap bulannya dan malah mengalami kerugian fantastis.
Dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Direktur BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito menyebut bahwa pihaknya pengalaman defisit mulai 2018-2020.
“Jadi Bapak Ibu sekalian, memang BPJS ini mempunyai pengalaman defisit itu mulai tahun 2018-2020. Kemudian pandemi COVID sedikit efisien, kemudian sampai sekarang rasio klaim sudah sampai 108,72 persen,” kata Prihati dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com.
Prihati menjelaskan, setiap hari BPJS melakukan transaksi kesehatan sebesar 2 juta transaksi per harinya hingga.
“Ini menghasilkan pembayaran Rp 500 miliar sehari, dan sebulan sebesar Rp 16 triliun, kurang lebih Rp 16,5 triliun. Dan iuran yang masuk sebesar Rp 14 triliun. Jadi setiap bulan kita defisit Rp 2 triliun,” terangnya.
Prihati di depan anggota DPR kemudian mengancam bahwa BPJS Kesehatan bakal mengalami gagal bayar maksimal di tahun depan. Hal itu setelah mereka mengeluarkan dana cadangan untuk menutupi defisit.
“Namun demikian, kita masih punya cadangan untuk pembayaran klaim ini sampai awal tahun depan. Dan kita akan gagal bayar di Juli 2027 bila tidak ada intervensi Bapak, Ibu sekalian,” ucapnya.
Kendati demikian, Prihati sesumbar bahwa potensi gagal bayar itu masih bisa diatasi oleh pemerintah. Prihati mengatakan ada peluang pencairan senilai Rp 20 triliun di Kemenkeu dan Kemenkes.
Dia berharap Peraturan Pemerintah terkait Pengelolaan Aset dan Liabilitas (PP Alma) segera ditandatangani. PP ini, katanya, yang akan mengubah defisit aset menjadi defisit aset neto sehingga bantuan Rp 20 triliun itu cair.
“Dan kalau sudah ditandatangani, moga-moga Juli Pak, cair. Yang tadi Bapak bilang Rp 20 triliun. Rp 10 triliun di Kemenkes, Rp 10 triliun di Kemenkeu ya, yang sudah pernah dijanjikan di awal tahun,” jelasnya.


