HOLOPIS.COM, JAKARTA – Prancis dan Spanyol kembali berpacu melawan kebakaran hutan besar yang terus meluas di tengah ancaman gelombang panas baru. Kondisi cuaca ekstrem diperkirakan akan semakin menyulitkan upaya pemadaman dalam beberapa hari ke depan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan salah satu kebakaran di wilayah barat daya Prancis telah berhasil dikendalikan. Namun, kobaran api yang jauh lebih besar di dekat Kota Bordeaux masih belum berhasil dipadamkan.
Saat mengunjungi pusat penanganan krisis di Bordeaux pada Minggu (27/7), Macron mengingatkan bahwa tantangan terberat kemungkinan masih akan dihadapi dalam beberapa pekan mendatang.
“Beberapa pekan ke depan akan menjadi masa yang berat dan kita harus mampu bertahan,” kata Macron, dikutip Holopis.com, Selasa (28/7).
Kebakaran terbesar di wilayah Gironde telah menghanguskan sekitar 42.000 hektare hutan dalam enam hari terakhir. Bencana tersebut juga memaksa sekitar 220.000 warga mengungsi serta menghancurkan sedikitnya 240 rumah.
Macron menyebut kebakaran lain di wilayah Landes kini sudah berhasil dikendalikan setelah sebelumnya memicu evakuasi lebih dari 30.000 orang.
Meski begitu, ia mengingatkan kondisi di lapangan masih berbahaya dan dapat berubah sewaktu-waktu.
“Api memang sudah berhasil dikendalikan, tetapi masih sangat aktif. Kita harus tetap sangat berhati-hati dalam beberapa jam hingga beberapa hari ke depan,” ujarnya.
Macron juga mengaitkan meningkatnya intensitas kebakaran hutan dengan dampak perubahan iklim yang membuat cuaca ekstrem semakin sering terjadi.
Spanyol Masih Berjuang Padamkan Api
Situasi serupa juga terjadi di Spanyol. Kebakaran hutan yang melanda wilayah barat Madrid telah memaksa sekitar 60.000 orang meninggalkan rumah mereka. Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, mengatakan beberapa jam ke depan akan menjadi penentu keberhasilan petugas dalam mengendalikan kobaran api.
Di salah satu lokasi pengungsian di pinggiran Madrid, ratusan warga terpaksa bertahan di aula olahraga yang disulap menjadi tempat penampungan darurat. Salah seorang korban, Maria Angeles Canete, mengaku kehilangan seluruh harta bendanya akibat kebakaran yang melanda area perkemahan miliknya di Navaluenga.
“Kami kehilangan semuanya. Kami memiliki tempat perkemahan ini, kami juga punya satu lagi, dan sekarang semuanya hilang. Kami sudah tidak memiliki apa pun,” tuturnya.
Melihat kondisi yang terus memburuk, Uni Eropa mengumumkan akan mengirim tambahan pesawat pemadam kebakaran ke Prancis. Bantuan tersebut melengkapi armada yang sebelumnya telah dikerahkan untuk membantu penanganan kebakaran di Spanyol.
Gelombang panas diperkirakan mulai melanda Prancis pada Senin (28/7), sementara Spanyol akan menghadapi suhu ekstrem mulai Selasa (29/7). Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu munculnya titik-titik api baru sekaligus memperlambat proses pemadaman yang hingga kini masih berlangsung.



