Secara medis, morfologi sperma menjadi salah satu parameter yang diperiksa dalam analisis semen.
Penilaian ini dilakukan bersama jumlah sperma dan motilitas atau kemampuan bergerak untuk mengetahui tingkat kesuburan pria.
Mengacu pada pedoman World Health Organization (WHO) Manual for Human Semen Analysis edisi ke-6, bentuk sperma normal dinilai berdasarkan kriteria morfologi yang ketat.
Persentase morfologi normal yang rendah dapat berkaitan dengan menurunnya peluang terjadinya pembuahan, meski bukan menjadi satu-satunya penentu infertilitas.
Dr. Jefry menegaskan, perbaikan kualitas sperma tidak cukup hanya mengandalkan konsumsi suplemen.
Perubahan gaya hidup tetap menjadi faktor utama untuk meningkatkan kesehatan reproduksi pria.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mengelola stres, tidur yang cukup, serta menghindari paparan panas berlebihan pada area testis.
“Kalau hanya berharap dari suplemen saja, perbaikannya tidak akan signifikan,” katanya.
Bagi pasangan yang telah menjalani program kehamilan selama lebih dari satu tahun tanpa hasil, pemeriksaan kesuburan pada pria maupun wanita disarankan dilakukan sedini mungkin.
Dengan evaluasi yang tepat, penyebab gangguan kesuburan dapat diketahui sehingga penanganan yang sesuai dapat segera diberikan.

