BANYUASIN, HOLOPIS.COM – Sebanyak 2.587 koperasi di sektor perkebunan berpeluang masuk lebih dalam ke bisnis hilirisasi sawit.
Pemerintah mendorong koperasi tidak lagi hanya menjadi pemasok tandan buah segar (TBS), tetapi ikut memiliki dan mengelola fasilitas pengolahan crude palm oil (CPO).
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengatakan keberadaan pabrik CPO milik koperasi dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat posisi tawar petani sawit.
Hal itu disampaikan Ferry saat meresmikan pabrik kelapa sawit milik Koperasi Unit Desa (KUD) Sejahtera di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan, Rabu (12/8/2026).
Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi 45 ton per jam, meningkat dari sebelumnya 30 ton per jam.
Menurut Ferry, fasilitas tersebut dapat menjadi model yang dikembangkan di daerah lain.
“Pabrik kelapa sawit ini akan menjadi contoh yang nanti akan kita replikasi di daerah lain,” ujar Ferry.
Kementerian Koperasi mencatat terdapat 2.587 koperasi di sektor perkebunan yang berpotensi menjadi basis pengembangan hilirisasi.
Ferry mengatakan konsolidasi menjadi salah satu strategi agar koperasi memiliki skala usaha yang lebih besar.
Penguatan dapat dilakukan melalui koperasi yang sudah ada maupun penggabungan sejumlah koperasi primer ke dalam badan usaha yang lebih besar.
Dengan skala yang lebih kuat, koperasi diharapkan mampu masuk ke bisnis pengolahan sawit yang membutuhkan investasi besar.
“Kalau semakin banyak koperasi yang punya pabrik, maka tidak menutup kemungkinan kita bisa membangun refinery untuk memproduksi minyak goreng sendiri dan nantinya dijual ke KDKMP,” katanya.
Artinya, peluang bisnis koperasi tidak berhenti pada produksi CPO.



