Bukan Sekadar Bicara, Public Speaking Jadi Senjata Penyuluh Mengawal Swasembada Pangan

0 Shares

YOGYAKARTA, Holopis.comPublic speaking menjadi senjata baru penyuluh pertanian membangun kepercayaan petani, mempercepat adopsi inovasi, dan mengawal swasembada pangan.

Upaya pemerintah memperkuat swasembada pangan tidak hanya bergantung pada benih unggul, mekanisasi, maupun pembangunan infrastruktur irigasi.

Di balik keberhasilan peningkatan produksi, terdapat peran penyuluh pertanian yang menjadi ujung tombak dalam memastikan inovasi benar-benar diterapkan petani di lapangan.

Karena itu, kemampuan public speaking kini dinilai menjadi kompetensi strategis yang menentukan efektivitas transfer teknologi pertanian sekaligus mempercepat pencapaian target swasembada pangan nasional.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Jumat Literasi Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Praktisi penyuluhan pertanian sekaligus ASN BRMP Kementerian Pertanian, R. Dani Medionovianto, menegaskan bahwa penyuluh modern tidak cukup hanya menguasai teknologi budidaya, tetapi juga harus mampu membangun kepercayaan petani melalui komunikasi yang efektif.

- Advertisement -

“Teknologi sehebat apa pun tidak akan memberikan dampak apabila tidak mampu dipahami dan diterapkan petani. Karena itu, komunikasi menjadi jembatan antara inovasi dan implementasi di lapangan,” ujarnya.

Urgensi peningkatan kapasitas komunikasi penyuluh semakin besar seiring ambisi pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional sepanjang Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 19,31 juta ton, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara estimasi produksi beras nasional pada 2025 mencapai sekitar 34,7 juta ton, mencerminkan tren positif sektor tanaman pangan.

Pemerintah juga mencatat penguatan stok pangan nasional.

Pada awal 2026, total stok beras yang dikuasai pemerintah dan masyarakat mencapai sekitar 12,53 juta ton, meningkat hampir 50 persen dibandingkan awal tahun sebelumnya.

Capaian tersebut menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas pasokan sekaligus mendukung kebijakan tanpa impor beras selama 2026.

Di sisi lain, proyeksi lembaga internasional juga menunjukkan optimisme terhadap sektor pangan Indonesia.

Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan produksi beras Indonesia pada musim tanam 2025/2026 mencapai sekitar 35,6 juta ton, sedangkan USDA memperkirakan 34,6 juta ton, sejalan dengan estimasi BPS sebesar 34,77 juta ton.

Menurut Dani, angka-angka tersebut tidak akan tercapai tanpa percepatan adopsi inovasi di tingkat petani.

Peran penyuluh menjadi krusial sebagai penghubung antara hasil riset, kebijakan pemerintah, dan praktik budidaya di lapangan.

Dalam paparannya, ia menjelaskan terdapat tiga fondasi utama yang harus dimiliki penyuluh.

Pertama, penguatan mental agar mampu mengatasi rasa gugup dan membangun kepercayaan diri saat berbicara di depan petani.

Kedua, penguasaan teknik komunikasi verbal maupun nonverbal, mulai dari intonasi, artikulasi, bahasa tubuh, hingga kemampuan membangun interaksi dengan audiens.

Ketiga, komitmen untuk terus belajar agar mampu mengikuti perkembangan teknologi pertanian yang terus berubah.

Ia menilai, penyuluh saat ini bukan lagi sekadar penyampai informasi, melainkan agen perubahan yang menentukan seberapa cepat inovasi diterima masyarakat tani.

“Keberhasilan program swasembada pangan pada akhirnya bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi itu diyakini, dipahami, dan diterapkan petani. Di situlah komunikasi menjadi faktor ekonomi yang sangat menentukan,” katanya.

Pengalaman hampir tiga dekade mendampingi petani kemudian dirangkum Dani dalam buku “Penyuluh Sebagai Panglima Komunikasi: Panduan Public Speaking dan Komunikasi Lapangan.”

Buku tersebut diharapkan menjadi referensi praktis bagi penyuluh, akademisi, maupun pendamping lapangan dalam meningkatkan kualitas komunikasi.

Menurutnya, penyuluh yang mampu berbicara secara persuasif akan lebih efektif mengakselerasi adopsi inovasi, meningkatkan produktivitas usaha tani, memperkuat daya saing sektor pertanian, sekaligus mendukung tercapainya swasembada pangan yang berkelanjutan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Redaktur
Gesha Yuliani Nattasya, Redaktur
Tim Redaksi :
Redaktur
Redaktur
Administrator

Berita Lainnya

YANG BARU