Harga Ayam dan Telur di Indonesia Timur Masih Mahal, Kementan-GPPU Bangun Sentra Unggas Baru

1 Shares

TANGERANG SELATAN, HOLOPIS.COMHarga ayam dan telur di Indonesia Timur masih mahal. Kementan dan GPPU membangun sentra unggas baru untuk pemerataan pasokan dan swasembada protein.

Harga daging ayam dan telur di sejumlah wilayah Indonesia Timur masih lebih mahal dibandingkan Pulau Jawa.

Kondisi tersebut mendorong Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) untuk membangun sentra-sentra industri unggas baru di luar Jawa guna mewujudkan pemerataan swasembada protein hewani nasional.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, drh. Agung Suganda, mengatakan Indonesia sebenarnya telah mencapai swasembada bahkan surplus produksi ayam dan telur.

Namun, manfaat surplus tersebut belum sepenuhnya dirasakan masyarakat di seluruh daerah karena sekitar 63 persen produksi ayam dan telur nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Menurut Agung, konsentrasi produksi tersebut menyebabkan ketimpangan pasokan.

- Advertisement -

Saat produksi di Pulau Jawa melimpah, harga ayam hidup dan telur di tingkat peternak justru anjlok.

Sebaliknya, daerah-daerah di Indonesia Timur masih menghadapi keterbatasan pasokan sehingga harga di tingkat konsumen tetap tinggi.

“Secara nasional kita sudah surplus. Tetapi produksi kita masih tersentralisasi sekitar 63 persen di Pulau Jawa. Karena itu ketika harga ayam dan telur jatuh di Jawa, di Papua, Maluku maupun beberapa wilayah Indonesia Timur justru harganya masih relatif tinggi karena suplai belum mencukupi,” ujar Agung dalam Kongres XIV GPPU di Tangerang Selatan, Jumat (24/7/2026).

Ia menjelaskan, tantangan sektor perunggasan saat ini bukan lagi meningkatkan produksi nasional, melainkan membangun ekosistem usaha yang mampu menghadirkan pusat-pusat produksi baru di luar Pulau Jawa.

Karena itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginisiasi pembangunan industri unggas terintegrasi dengan menggandeng BUMN pangan dan GPPU.

Program tersebut dirancang agar setiap wilayah memiliki ekosistem produksi sendiri sehingga tidak bergantung pada pasokan dari Pulau Jawa.

“Pemerintah ingin swasembada ayam dan telur bukan hanya terjadi di Jawa, tetapi juga di seluruh Indonesia sehingga masyarakat mendapatkan akses protein hewani dengan harga yang terjangkau,” kata Agung.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

YANG BARU