HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ramai tren minum susu mentah demi gizi utuh, Guru Besar IPB ungkap risiko bakteri berbahaya dan ancaman kesehatan yang tak boleh diabaikan.
Tren konsumsi raw milk atau susu mentah kembali ramai diperbincangkan di media sosial.
Sebagian masyarakat meyakini susu yang tidak melalui proses pemanasan seperti pasteurisasi atau UHT dianggap memiliki kandungan gizi yang lebih “utuh” dan alami.
Klaim tersebut membuat sejumlah orang mulai tertarik mengonsumsi susu mentah secara langsung dari peternakan maupun sumber tidak terstandar.
Namun, di tengah tren tersebut, pakar mengingatkan adanya risiko kesehatan serius yang tidak boleh diabaikan.
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University Prof Dr Epi Taufik S.Pt., MVPH., M.Si menegaskan bahwa konsumsi susu mentah justru berpotensi membahayakan kesehatan, terutama di Indonesia yang sistem produksi susunya masih banyak dilakukan secara tradisional.
“Saya tidak menyarankan konsumsi susu mentah, khususnya di Indonesia, karena risiko untuk terkontaminasi oleh bakterinya tinggi,” ujar Prof Epi.
Menurutnya, susu mentah memiliki potensi membawa berbagai mikroorganisme berbahaya.
Tanpa proses pemanasan yang memadai, bakteri patogen dapat bertahan hidup di dalam susu dan masuk ke tubuh manusia saat dikonsumsi.
Kondisi ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran pencernaan hingga penyakit yang lebih serius.
Prof Epi menjelaskan bahwa dalam susu mentah terdapat dua jenis bakteri utama yang perlu diwaspadai, yakni bakteri patogen dan bakteri pembusuk.
Bakteri patogen merupakan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia, sedangkan bakteri pembusuk dapat mempercepat kerusakan kualitas susu sehingga tidak layak konsumsi.
“Kalau susu mentah ya, khususnya di Indonesia saya tidak menyarankan. Karena risiko untuk terkontaminasi oleh bakterinya tinggi,” tegasnya kembali.
Ia menambahkan, kondisi di Indonesia membuat risiko tersebut semakin besar.
Sebagian besar proses pemerahan susu di dalam negeri masih dilakukan secara manual.
Susu yang baru diperah biasanya ditampung dalam wadah sederhana seperti ember atau milk can, sehingga potensi kontaminasi dari lingkungan, peralatan, maupun tangan manusia menjadi lebih tinggi.
Berbeda dengan susu mentah, proses pasteurisasi dan UHT dirancang untuk mengurangi bahkan menghilangkan bakteri berbahaya.
Pasteurisasi dilakukan dengan pemanasan pada suhu tertentu dalam waktu singkat untuk membunuh mikroorganisme patogen tanpa menghilangkan nilai gizi utama susu.
Sementara itu, proses UHT menggunakan suhu lebih tinggi dalam waktu sangat singkat sehingga menghasilkan susu yang lebih aman dan tahan lama.
Dalam konteks internasional, Prof Epi juga menyoroti bahwa beberapa negara maju menerapkan aturan sangat ketat terhadap distribusi susu mentah.
Ia mencontohkan di Jerman, hanya terdapat dua peternakan yang diizinkan menjual susu mentah untuk konsumsi langsung.
Itupun dengan syarat ketat, seperti susu harus diminum di lokasi dan tidak diperbolehkan dibawa pulang.
“Pengawasan ketat dilakukan untuk memastikan kualitas dan keamanan produknya,” jelasnya.
Aturan tersebut menunjukkan bahwa konsumsi susu mentah di beberapa negara bukan tanpa regulasi.
Justru, pengawasan yang sangat ketat diberlakukan untuk meminimalkan risiko kesehatan pada masyarakat.
Di sisi lain, tren di media sosial yang mendorong konsumsi susu mentah dengan alasan kesehatan dinilai perlu disikapi dengan bijak.
Edukasi kepada masyarakat menjadi penting agar tidak terjebak pada informasi yang belum tentu sesuai dengan standar keamanan pangan.
Prof Epi menekankan bahwa keamanan pangan harus menjadi prioritas utama dalam konsumsi produk hewani, termasuk susu.
Ia mengingatkan bahwa manfaat gizi tidak akan berarti jika diiringi risiko penyakit akibat kontaminasi bakteri.
Dengan meningkatnya popularitas susu mentah di kalangan tertentu, para ahli berharap masyarakat lebih kritis dalam menyaring informasi.
Pilihan konsumsi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada tren, tetapi juga pada bukti ilmiah dan standar keamanan pangan yang berlaku.

