Mentan Andi Amran Bilang Indonesia Sudah Swasembada Pangan, Cetak Sawah Baru Terus Dikebut

0 Shares

JAKARTA – Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa Indonesia secara sah telah mencapai status swasembada pangan. Klaim ini didasarkan pada realisasi data impor nasional yang berada jauh di bawah ambang batas maksimal yang ditetapkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).

Dalam pemaparannya, Mentan Amran merujuk pada standar FAO dan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2020. Menurut standar internasional tersebut, sebuah negara dikategorikan swasembada jika pemenuhan pangan dari jalur impor maksimal hanya sebesar 10 persen dari total kebutuhan nasional.

“Kebutuhan pangan nasional kita yang dijaga pemerintah berada di angka 68 juta ton. Sementara total impor kita hanya 3,5 juta ton. Jika dihitung, rasio impor kita hanya berkisar antara 4 persen hingga 4,9 persen. Angka ini jauh di bawah batas 10 persen FAO, jadi kita jelas sudah swasembada,” ujar Amran Sulaiman saat melakukan dialog Swasembada Pangan dengan para tokoh dan Mahasiswa di Gudang Bulog Romokalisari, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (15/5/2026).

Ia merinci, sejumlah komoditas utama saat ini telah mencapai status swasembada penuh. Di antaranya adalah beras—yang kini sudah tidak ada impor lagi—jagung pakan, cabai besar, cabai rawit, bawang merah, daging ayam, serta telur ayam. Bahkan, beberapa komoditas di antaranya kini sudah mulai diekspor ke luar negeri.

Bantah Kritik, Pamerkan Proyek Cetak Sawah 800 Ribu Hektar

Menanggapi kritik dari sejumlah pengamat mengenai isu penyusutan lahan pertanian, Mentan Amran secara langsung membantah tudingan tersebut. Ia menyatakan bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) justru bergerak masif melakukan perluasan dengan menambah 800.000 hektar lahan sawah baru di berbagai wilayah Indonesia.

- Advertisement -

Salah satu titik proyek strategis tersebut berada di Provinsi Sumatera Selatan dengan luas mencapai 100.000 hektar yang digarap menggunakan teknologi modern seperti drone. Amran bahkan menantang para pengkritik dan mahasiswa untuk meninjau langsung ke lokasi guna membuktikan validitas proyek tersebut.

“Kalau mahasiswa hukum termasuk dosennya mau ke sana (Sumatera Selatan), saya siap biayai 50 hingga 500 orang untuk studi banding ke lokasi cetak sawah. Ini biaya pribadi saya, hitung-hitung sebagai amal jariah untuk memberi pemahaman kepada pihak yang belum paham,” cetusnya.

Selain di Sumatera Selatan, optimalisasi lahan juga sukses dilakukan di Kalimantan Tengah dengan menyulap lahan rawa yang sebelumnya tidak produktif menjadi lahan pertanian yang kini sudah berhasil panen sebanyak dua kali. Proyek cetak sawah skala besar juga terus dikebut di wilayah Merauke, Papua, sekaligus mematahkan anggapan pesimistis bahwa tanaman padi tidak dapat tumbuh di tanah Papua.

Adopsi Teknologi Pertanian Terbaik Dunia

Keberhasilan program cetak sawah dan swasembada ini diakui Mentan tidak lepas dari modernisasi mekanisasi pertanian. Kementan mengadopsi teknologi pertanian tercanggih dari sejumlah negara maju.

“Kami tidak kalah. Kami cek dan ambil langsung teknologi terbaik di dunia dari Amerika Serikat—khususnya Arkansas yang menyuplai 50 persen beras di AS—lalu dari China, dan Vietnam untuk diterapkan di Indonesia,” pungkas Amran.

Melalui lompatan teknologi dan perluasan lahan rawa produktif yang terus berjalan, Kementerian Pertanian optimistis fondasi ketahanan pangan Indonesia ke depan akan semakin kokoh dan mandiri dari ketergantungan pasar luar negeri.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Muhammad Ibnu Idris
Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU