HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa memberikan tantangan besar bagi para pelaku industri perjalanan untuk mulai melirik potensi lokal yang selama ini tersembunyi di wilayah pinggiran Indonesia.
Saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Alliance of the Indonesian Tour & Travel Agencies (AITTA) Tahun 2026 di Jakarta, ia menegaskan bahwa desa wisata harus menjadi “senjata” baru pariwisata nasional.
Langkah strategis ini diambil guna mendorong pariwisata yang lebih berkualitas dan berdaya saing, terutama saat sektor global tengah dihantui oleh ketidakpastian dinamika geopolitik dunia.
Wamenpar menyadari bahwa situasi geoekonomi saat ini bagaikan kerikil tajam bagi laju pariwisata global, namun Indonesia justru berhasil mencatatkan anomali pertumbuhan yang menggembirakan.
Data menunjukkan bahwa pada kuartal I tahun 2026, kunjungan wisatawan mancanegara ke tanah air mencapai $3,4$ juta kunjungan atau tetap tumbuh sebesar $8\%$ dibandingkan periode sebelumnya.
Lonjakan lebih tajam terlihat pada pergerakan wisatawan nusantara yang mencatatkan angka $319,51$ juta perjalanan, sebuah peningkatan signifikan sebesar $13,14\%$ di tengah tantangan global.
“Tahun 2025 lalu kita berhasil melampaui target RPJMN, dan saya yakin capaian ini adalah buah dari kolaborasi kuat antara pemerintah dan pelaku industri,” ujar Ni Luh Puspa di HARRIS Vertu Hotel Harmoni, Rabu (13/5/2026).
Untuk menjaga tren positif tersebut, Kementerian Pariwisata telah menyiapkan lima program unggulan, di antaranya transformasi digital melalui Tourism 5.0 serta penguatan standar keselamatan wisata.
Secara khusus, Ni Luh Puspa menyoroti desa wisata sebagai bagian dari visi Asta Cita Presiden untuk membangun ekonomi dari desa demi pemerataan dan pengentasan kemiskinan.
Ia pun meminta biro perjalanan yang tergabung dalam AITTA untuk tidak hanya terpaku pada destinasi arus utama, melainkan berani mengemas desa wisata sebagai paket unggulan internasional.
“Kami sangat berharap biro perjalanan dapat menjadikan desa wisata sebagai salah satu pilihan destinasi utama yang ditawarkan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara,” tegas Wamenpar.
Pemerintah juga berencana meluncurkan peta jalan pengembangan desa wisata nasional tahun ini sebagai panduan strategis agar destinasi lokal tersebut mampu tumbuh tangguh dan kompetitif secara global.
Dalam kesempatan tersebut, Ni Luh Puspa menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi dan perizinan bagi seluruh pelaku usaha guna menjamin keamanan serta kenyamanan para pelancong.
“Kami menyadari kerja pemerintah belum maksimal, karena itu kami sangat terbuka terhadap rekomendasi konkret dari AITTA yang bisa segera dieksekusi bersama,” pungkasnya dalam acara yang didampingi oleh pejabat Kemenpar, Erwita Dianti dan Hanifah Makarim.

