HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman keras terhadap Amerika Serikat (AS). IRGC dengan tegas siap menyerang akses militer AS jika ‘menyentuh’ kapal tanker minyak Iran.
Dalam pernyataannya pada Sabtu, IRGC menegaskan setiap serangan terhadap kapal tanker minyak maupun kapal komersial Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran terhadap pangkalan militer AS dan kapal-kapal musuh di kawasan.
Peringatan tersebut muncul di tengah kondisi gencatan senjata yang masih rapuh antara Iran dan AS. Televisi pemerintah Iran melaporkan ancaman itu disampaikan sehari setelah AS menyerang dua kapal tanker minyak Iran.
Militer AS mengklaim kedua kapal tersebut berusaha menerobos blokade pelabuhan Iran. Sementara, Teheran memandang tindakan itu sebagai provokasi serius yang dapat memperburuk konflik regional.
Di sisi lain, Bahrain yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS mengumumkan penangkapan 41 orang yang diduga memiliki hubungan dengan Garda Revolusi Iran.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain menyebut kelompok tersebut diduga mengumpulkan dana untuk dikirim ke Iran guna mendukung “operasi terorisnya.
Langkah Bahrain langsung memicu respons keras dari Iran. Ketua Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran, Ebrahim Azizi, memperingatkan Bahrain agar tidak berpihak pada kebijakan yang didukung Amerika Serikat.
“Berpihak pada resolusi yang didukung AS akan membawa konsekuensi berat. Selat Hormuz adalah jalur vital; jangan mengambil risiko menutupnya untuk diri Anda sendiri SELAMANYA,” tulis Azizi melalui media sosial dikutip pada Minggu, (10/5/2026).
Situasi di Selat Hormuz kini menjadi perhatian dunia karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi global. Sejak perang antara AS dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, Iran disebut telah memblokir sebagian jalur pelayaran strategis tersebut.
Kondisi itu memicu lonjakan harga energi dunia dan meningkatkan kekhawatiran pasar internasional terhadap stabilitas pasokan minyak global.
Sementara itu, AS juga terus memperketat blokade terhadap pelabuhan Iran. Komando Pusat AS mengklaim telah memukul mundur 58 kapal komersial dan melumpuhkan empat kapal sejak operasi blokade dimulai pada 13 April.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Inggris dan Prancis mulai menyiapkan langkah pengamanan di kawasan Teluk.
Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan kapal perang HMS Dragon akan ditempatkan di kawasan Timur Tengah untuk mendukung rencana pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pun, Prancis juga mengonfirmasi pemindahan kelompok tempur kapal induknya ke Laut Merah sebagai bagian dari persiapan pengamanan regional.
Inggris dan Prancis kini memimpin pembahasan koalisi internasional guna memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Namun, rencana itu disebut baru akan dijalankan jika tercapai gencatan senjata yang stabil dan jalur pelayaran dinilai aman bagi kapal komersial.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...