HOLOPIS.COM, JAKARTA – Militer Israel dilaporkan masih kesulitan menemukan cara efektif untuk menghadapi drone canggih milik Hizbullah yang semakin aktif beroperasi di Lebanon selatan.
Mengutip Anadolu, media Israel melaporkan pesawat nirawak berbasis serat optik milik Hizbullah kini jadi ancaman serius bagi pasukan Israel karena sulit dideteksi maupun dicegat saat beroperasi.
Stasiun penyiaran publik Israel, KAN, mengutip pejabat militer yang tak disebutkan namanya menyebut tentara Israel mulai menerapkan ‘sistem penargetan cerdas’ di Lebanon selatan. Hal itu untuk meningkatkan kemampuan pelacakan dan pencegahan drone.
Selain itu, Israel juga mendistribusikan ratusan teropong penglihatan malam jenis ‘Dagger’ kepada tentaranya guna meningkatkan akurasi tembakan saat operasi malam hari.
Menurut laporan tersebut, drone serat optik Hizbullah telah berkembang menjadi salah satu tantangan operasional terbesar bagi Israel di wilayah perbatasan Lebanon selatan.
Drone-drone itu disebut terus menyerang pasukan dan kendaraan militer Israel di tengah meningkatnya operasi militer dan pelanggaran gencatan senjata di kawasan tersebut.
“Drone serat optik Hizbullah telah muncul sebagai salah satu tantangan operasional utama tentara Israel di Lebanon selatan,” tulis laporan Anadolu dikutip pada Minggu, (10/5/2026).
Meski berbagai langkah pengamanan telah dilakukan, Israel disebut masih belum memiliki solusi yang benar-benar efektif untuk menghentikan serangan drone Hizbullah.
Pada akhir April lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mengakui bahwa rudal dan drone Hizbullah merupakan dua ancaman besar. Kata Netanyahu, dua ancaman itu harus segera diatasi.
Netanyahu juga mendesak jajaran militer Israel untuk mencari strategi baru dalam menghadapi perkembangan teknologi militer Hizbullah.
Ketegangan di Lebanon selatan terus berlangsung meski gencatan senjata diberlakukan sejak 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei.
Namun, bentrokan bersenjata dan serangan harian antara Israel dan Hizbullah dilaporkan masih terus terjadi di sejumlah titik perbatasan.
Sejak konflik regional pecah pada awal Maret setelah perang Iran dimulai pada akhir Februari. Pun, serangan Israel di Lebanon dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.700 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi.
Israel juga masih mempertahankan apa yang disebut sebagai “zona penyangga” di wilayah Lebanon selatan.
Sementara itu, Amerika Serikat (AS) dijadwalkan kembali menjadi tuan rumah pembicaraan perdamaian antara Israel dan Lebanon pada 14 hingga 15 Mei mendatang di Washington.


