JAKARTA, HOLOPIS.COM – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan pemerintah sampai dengan saat ini masih membahas rencana kenaikan Harga Eceran Tertinggi atau HET MinyaKita menyusul kenaikan harga crude palm oil (CPO) dan biaya distribusi.
“Ya, lagi pembahasan ya karena kan sekarang HET itu kan sudah dari tahun berapa itu, sudah hampir 3 tahunan ya (belum naik -red),” kata Budi saat menghadiri acara puncak Peringatan Hari Konsumen Nasional (Harkonas) 2026 di Anjungan Sarinah, Jakarta Pusat, Minggu (10/5/2026).
Kemudian, Budi juga menyampaikan bahwa pemerintah perlu mengevaluasi kembali HET MinyaKita karena aturan harga tersebut sudah cukup lama tidak mengalami penyesuaian.
“Jadi kan sudah cukup lama,” ujarnya.
Ia menjelaskan kenaikan harga CPO dan meningkatnya biaya distribusi menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam mengkaji penyesuaian harga Minyakita.
“Apalagi sekarang harga CPO naik terus, terus struktur pembiayaan termasuk distribusi kan semua naik,” katanya.
Pun demikian, Budi Santoso menegaskan kembali bahwa pemerintah masih terus melakukan pembahasan agar kebijakan yang diambil tetap menyesuaikan kondisi di lapangan.
“Jadi kita ingin ya melihat kembali ya, jangan sampai kita tidak menyesuaikan dengan kondisi yang ada,” tandasnya.
Sekadar diketahui Sobat Holopis, bahwa berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) per tanggal 8 Mei 2026, harga Minyakita sebesar Rp 15.937 per liter, sedikit lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter. Distribusi jadi penyebab kenaikan harga di wilayah Papua.


