HOLOPIS.COM. JAKARTA – Upaya pengendalian banjir di Jakarta terus dilakukan secara intensif, bahkan di luar musim hujan. Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Selatan menerapkan strategi rutin yang terbukti efektif dengan melakukan pengerukan harian di titik-titik rawan genangan.
Langkah ini bukan sekadar respons darurat. Melainkan bagian dari sistem pengendalian banjir yang dijalankan secara konsisten, terutama menghadapi musim kemarau dan pancaroba.
10 Titik Dikeruk Setiap Hari
Kepala Seksi Pemeliharaan SDA Jakarta Selatan Junjung Paulus menjelaskan pihaknya bekerja secara proaktif.
“Kalau bagi kami di SDA, ini bukan bencana, justru kami bekerja lebih maksimal dalam pengerukan dan pembersihan saluran,” kata Junjung kepada awak media, Minggu, (26/4/2026).
Menurutnya, setiap hari, tim melakukan pengerukan di sekitar 10 lokasi, dengan enam titik di antaranya ditangani secara intensif.
Ia bilang, pengerukan difokuskan pada aliran strategis seperti Kali Ciliwung dan Kali Pesanggrahan.
Selain itu, petugas juga membersihkan saluran penghubung (PHB) serta melakukan pengurasan manual di berbagai titik untuk menjaga kelancaran aliran air.
Langkah ini penting untuk meningkatkan kapasitas tampung air sekaligus mencegah genangan yang bisa memicu masalah kesehatan.
Hasilnya cukup signifikan. Pengerukan rutin mampu mempercepat surutnya genangan hingga tiga jam lebih cepat.
Durasi banjir yang sebelumnya bisa mencapai 10 jam kini dapat dipangkas menjadi sekitar dua hingga tiga jam, terutama saat hujan deras.
Selain pengerukan, pemantauan tinggi muka air tanah juga dilakukan secara berkala. Hal ini penting karena kondisi tanah di Jakarta cenderung mengalami penurunan setiap tahun.
Program ini merupakan bagian dari kebijakan besar Dinas SDA DKI Jakarta dalam melakukan normalisasi dan pemeliharaan sungai secara berkelanjutan di seluruh wilayah.
Untuk memperkuat pengendalian banjir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengalokasikan anggaran besar pada 2026. Sebesar Rp3,64 triliun disiapkan untuk pengendalian banjir, ditambah Rp18,25 miliar untuk sistem pendukungnya.

