HOLOPIS.COM, Purwakarta – Siswa Purwakarta yang viral karena menghina guru tak diskorsing, Dedi Mulyadi memilih pembinaan di barak militer mulai Juni mendatang.
Kasus siswa SMAN 1 Purwakarta yang sempat viral karena mengolok-olok guru kini ditangani dengan cara yang tak biasa.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memilih tidak menjatuhkan sanksi skorsing kepada sembilan siswa yang terlibat.
Sebagai gantinya, mereka tetap berada di lingkungan sekolah dengan pola pembinaan khusus, sekaligus disiapkan mengikuti pelatihan di barak militer.
Peristiwa ini bermula dari video yang memperlihatkan sejumlah siswa melakukan tindakan tidak pantas terhadap guru.
Video tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu perhatian publik.
Pihak sekolah di SMAN 1 Purwakarta langsung mengambil langkah penanganan bersama pemerintah daerah.
Alih-alih dikeluarkan atau diskors, sembilan siswa tersebut tetap mengikuti kegiatan belajar dengan pengawasan ketat.
Namun, mereka juga diwajibkan menjalani sejumlah aktivitas tambahan di luar jam pelajaran.
Setiap hari, para siswa lebih dulu melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah sebelum kegiatan belajar dimulai.
Rutinitas ini menjadi bagian dari pembinaan yang diterapkan selama masa penanganan kasus berlangsung.
Selain itu, mereka juga menjalani kegiatan refleksi diri yang dilakukan secara berkala bersama pihak sekolah.
Dalam proses ini, siswa diajak untuk memahami kembali dampak dari tindakan yang telah dilakukan.
Guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah menyebutkan bahwa kegiatan pembinaan juga disertai pendekatan keagamaan dan pendampingan psikologis.
Ia menjelaskan, kondisi para siswa sempat terguncang setelah kasus tersebut viral.
“Ini anak-anaknya mereka lagi refleksi. Jadi dari sembilan orang itu ada non-muslim satu orang, delapannya muslim,” ujar guru BK saat mendampingi proses pembinaan di sekolah.
Untuk siswa Muslim, kegiatan tadarus Al-Qur’an menjadi bagian dari rutinitas harian.
Sementara siswa non-Muslim tetap diberikan ruang menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.
Pihak sekolah juga memberikan pendampingan intensif melalui guru BK.
Hal ini dilakukan karena sebagian siswa disebut sempat mengalami tekanan setelah kasus mereka menjadi perhatian luas di media sosial.
“Awalnya syok sekali kayak terpuruk kembali. Sekarang sudah kuat, hadapi kembali,” kata guru BK menjelaskan kondisi siswa pascaviral.
Pendampingan dilakukan agar kegiatan pembinaan tetap berjalan tanpa mengganggu proses belajar mengajar di sekolah.
Dari hasil pendataan pihak sekolah, para siswa yang terlibat berasal dari latar belakang keluarga yang relatif stabil.
Sebagian besar diketahui berasal dari keluarga yang dinilai mampu secara ekonomi serta memiliki hubungan keluarga yang baik.
Meski demikian, pihak sekolah tetap melakukan pengawasan ketat selama proses pembinaan berlangsung di lingkungan sekolah.
Barak Militer
Sebagai langkah lanjutan, Dedi Mulyadi telah menyiapkan program pembinaan lanjutan yang akan dilaksanakan pada Juni mendatang.
Para siswa dijadwalkan mengikuti pelatihan di barak militer sebagai bagian dari pembinaan karakter.
“Nanti bulan Juni mereka ikut program barak militer, nanti bareng ketua OSIS yang sekarang,” ujar Dedi Mulyadi dalam keterangannya.
Program tersebut dirancang sebagai pelatihan kedisiplinan yang mencakup pengaturan waktu, kegiatan fisik, hingga pembiasaan hidup terstruktur.
Seluruh siswa yang terlibat dalam program ini akan mengikuti kegiatan secara terjadwal di bawah pengawasan.
Langkah ini menjadi bagian dari pola penanganan yang diterapkan dalam kasus pelajar di Jawa Barat, di mana pembinaan dilakukan langsung di luar pola skorsing konvensional yang selama ini umum digunakan di lingkungan sekolah.

