JAKARTA, HOLOPIS.COM – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Eddy Hartono menyampaikan, bahwa penguatan ketahanan nasional mulai dari lingkungan sekolah penting dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan Sosialisasi Pencegahan Paham Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Radikalisme di SMAN 1 Jamblang, Cirebon, Jawa Barat.
Eddy mengatakan, upaya tersebut dilakukan agar para pelajar memiliki kemampuan literasi digital yang kuat dan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai konten kekerasan dan pengaruh negatif lainnya yang ada di media sosial.
“Konten yang menyebabkan pelajar terpapar isinya kebanyakan terpengaruh oleh konten unsur-unsur yang mengarah kekerasan,” ujar Kepala BNPT, Rabu (22/4/2026).
Ia mengungkapkan berdasarkan penelitian setidaknya terdapat tiga faktor utama kerentanan pelajar terpapar konten radikalisme di media sosial, yakni perundungan (bullying) dan tidak ada tempat untuk mengadu sehingga mengadu ke media sosial, kondisi orang tua, dan faktor ekonomi.
Selain menerima pembekalan dari Kepala BNPT, pelajar juga mendapat pembekalan materi dari perwakilan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) dan Duta Damai Provinsi Jawa Barat.
Acara ditutup dengan pembuatan video jargon “Tolak Radikalisme” secara bersama-sama sebagai komitmen pelajar dalam menjaga perdamaian.
Sebelumnya, Kepala BNPT sempat membeberkan konten kekerasan ekstrem dapat mendoktrin anak-anak hanya dalam waktu 3–6 bulan. Percepatan paparan di ruang digital itu, lebih cepat membentuk pemahaman dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dalam rentang waktu 3–6 tahun melalui pertemuan tatap muka.
“Kalau dulu radikalisasi di tingkat tatap muka, sebelum digital itu butuh waktu sampai 3–6 tahun, tetapi saat era digital ini hanya waktu 3–6 bulan. Orang bisa dicuci otaknya untuk menjadi ekstremisme atau radikalisme,” ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa anak-anak dan perempuan menjadi kelompok yang rentan terhadap pemahaman kekerasan ekstrem di ruang digital.
“Kami sebelumnya sudah melakukan penelitian bahwa memang perempuan dan anak ini juga menjadi kelompok rentan, terpapar, baik terpapar kepada paham-paham kekerasan maupun terhadap paham-paham radikal terorisme. Nah, ini juga terus saling mengaitkan,” ucapnya.
Paparan konten kekerasan ekstrem tersebut, berasal dari media sosial, seperti YouTube, Telegram, Tik Tok, dan platform serupa lainnya. Selain itu, BNPT menemukan konten kekerasan ekstrem tersebut melalui darkweb dalam satu komunitas selain melalui media sosial.

