Gelaran 9th APYLC: Wadah Kolaborasi Siswa Empat Negara Membangun Solusi Global

0 Shares

HOLOPIS.COM, TANGSEL – BINUS School Serpong resmi menjadi tuan rumah penyelenggaraan 9th Asia Pacific Young Leaders Convention (APYLC) yang dimulai pada Senin (20/4).

Acara ini menjadi ajang pertemuan bagi delegasi siswa SMA dari empat negara untuk mendiskusikan berbagai solusi atas tantangan global di masa depan.

- Advertisement -

Dalam pembukaannya, konvensi ini menekankan pentingnya peran kreativitas manusia sebagai aset utama di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Pesan tersebut menegaskan bahwa di era dominasi kecerdasan buatan, sentuhan kemanusiaan dan kreativitas adalah mata uang yang paling berharga.

- Advertisement -

Ajang yang mempertemukan delegasi siswa SMA dari Indonesia, Jepang, Tiongkok, dan Singapura ini bukan sekadar pertemuan formal antar-pelajar.

Mengusung tema besar ‘Root for Change: Feeding Minds, Healing Communities, Empowering Futures’, APYLC tahun ini menjelma menjadi laboratorium sosial.

Di sinilah inovasi digital dipaksa berdamai dengan nilai-nilai inklusivitas melalui berbagai kegiatan eksploratif para siswa.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, yang hadir di tengah para pemimpin muda tersebut, memberikan perspektif yang menyentak kesadaran.

Ia menegaskan bahwa generasi muda tidak boleh terjebak hanya menjadi penikmat teknologi di tengah perkembangan zaman.

Baginya, dunia saat ini adalah sebuah taman bermain besar yang menuntut keberanian untuk merancang aturan mainnya sendiri.

“Dunia ini adalah permainan di mana kita harus menjadi penciptanya, bukan sekadar pemainnya. Jangan menunggu sistem atau orang lain untuk berubah, tetapi ambillah kendali, gunakan teknologi seperti AI sebagai alat, dan bangunlah koneksi antarmanusia untuk menciptakan solusi nyata bagi masa depan dunia,” tegas Irene Umar.

Visi tersebut disambut hangat oleh atmosfer kolaboratif yang dibawa oleh delegasi internasional seperti Changshu Lunhua Senior High School (Tiongkok), Kaichi High School (Jepang), dan Nan Chiau High School (Singapura).

Interaksi lintas budaya ini menjadi bukti bahwa tantangan global masa depan hanya bisa dipecahkan melalui sinergi yang melampaui batas geografis.

Kementerian Ekraf pun meletakkan harapan besar pada ajang seperti ini untuk memperkuat pilar ekonomi masa depan, terutama di sektor teknologi, e-sports, dan edukasi.

Komitmen pemerintah bukan lagi sekadar memberi ruang diskusi, melainkan menyediakan platform agar ide-ide liar para siswa dapat bertransformasi menjadi solusi yang kompetitif di pasar global.

Keyakinan Irene terhadap potensi anak muda juga didasari pada kejujuran intelektual yang mereka miliki dalam memandang dunia.

Menurutnya, sering kali orang dewasa perlu bercermin pada cara pandang anak-anak dalam membedah masalah yang kompleks.

“Anak muda tidak hanya butuh didengar, mereka butuh platform agar solusi kreatif mereka dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sebab sering kali, guru terbaik bagi kita semua adalah anak-anak,” ungkapnya menutup pesan inspiratif tersebut.

Senada dengan hal itu, President of BINUS School Education, Michael Wijaya Hadipospito, melihat kehadiran Wamen Ekraf sebagai pemantik semangat luar biasa.

Sinergi ini diharapkan tidak hanya berhenti saat konvensi berakhir, tetapi berlanjut menjadi aksi nyata yang memberdayakan komunitas dan memperkokoh ekonomi kreatif di kawasan Asia Pasifik.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru