HOLOPIS.COM, JAKARTA – Isu hak asasi manusia kembali jadi sorotan dalam dinamika hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mendesak Teheran untuk membebaskan delapan wanita yang dilaporkan terancam hukuman mati jelang kemungkinan negosiasi antara kedua negara.
Seruan itu disampaikan langsung Trump melalui platform Truth Social. Ia menyebut pembebasan para tahanan perempuan tersebut sebagai langkah awal untuk membangun kepercayaan dalam hubungan bilateral.
“Kepada para pemimpin Iran, yang akan segera bernegosiasi dengan perwakilan saya: Saya akan sangat menghargai pembebasan para wanita ini,” tulis Trump dikutip dari New York Post, Rabu, (22/4/2026).
Trump merasa yakin karena Iran akan menghargai tuntutannya itu. Dia minta agar 8 wanita itu jangan disakiti.
“Saya yakin mereka akan menghargai fakta bahwa Anda telah melakukannya. Tolong jangan sakiti mereka! Ini akan menjadi awal yang baik untuk negosiasi kita!!!” lanjut Trump.
Awal Mula Kasus
Menurut laporan kelompok oposisi National Council of Resistance of Iran (NCRI), sebagian besar wanita AS itu ditangkap Iran karena diduga terlibat dalam demonstrasi anti pemerintah pada akhir 2025.
Salah satu nama yang mencuat adalah Bita Hemmati. Ia disebut ditangkap bersama suaminya dan dua pria lain.
Kemudian, Bita Hemmati dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan berat, mulai dari penggunaan bahan peledak hingga mengganggu keamanan nasional.
Selain itu, terdapat Diana Taherabadi (16 tahun) dan Mahboubeh Shabani (33 tahun), yang juga ditahan karena diduga terlibat dalam aksi protes.
Taherabadi bahkan didakwa dengan tuduhan serius memerangi Tuhan. Dugaan pelanggaran itu masuk kategori berat dalam sistem hukum Republik Islam Iran.
Sementara itu, organisasi HAM Hengaw Organization for Human Rights melaporkan bahwa Shabani ditahan karena membantu demonstran yang terluka.
Kasus lain melibatkan Venus Hosseininejad (28), yang menurut keluarganya kepada Australian Broadcasting Corporation dipaksa mengakui kejahatan di televisi nasional.
Ada pula Golnaz Naraghi (37), seorang dokter spesialis penyakit dalam di Hashemi-Nejad Hospital yang dilaporkan dipaksa menandatangani pengakuan di penjara wanita Qarchak.
Lalu, ada tiga nama lain yakni Ghazal Ghalandari, Panah Movahedi, dan Ensieh Nejat—masih belum dapat diverifikasi secara independen.
Sejumlah kelompok HAM menuduh Iran menggelar pengadilan yang tidak transparan terhadap para demonstran. Human Rights Activists News Agency mencatat lebih dari 50.000 orang ditahan selama gelombang protes tersebut.

