HOLOPIS.COM, SLEMAN – DOES University, institusi yang lahir dari tangan dingin musisi Erix Soekamti, baru saja menerima kunjungan spesial dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, pada Selasa (14/4).
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni protokol, melainkan sebuah pengakuan atas model “pendidikan akar rumput” yang berhasil menembus batas industri global melalui pendekatan yang sangat personal dan komunitas.
Berdiri sejak akhir 2015, DOES University menjalankan mesin pendidikannya dengan bahan bakar yang unik, yakni disiplin karantina yang ketat dan prinsip “Ilmu Dibayar Ilmu”.
Di sini, para talenta dari Aceh hingga Papua tidak hanya belajar teknis, tetapi ditempa dalam ekosistem asrama selama 1,5 tahun untuk membangun mentalitas profesional yang tangguh.
Wamen Ekraf Irene Umar menyebutnya sebagai prototipe ideal kemandirian ekonomi kreatif, di mana kurikulum tidak disusun di atas kertas teori semata, melainkan langsung berdenyut mengikuti kebutuhan industri papan atas.
Keunikan DOES terletak pada filosofi “Mandiri dalam Bekerja, Merdeka dalam Berkarya” yang dibuktikan dengan kualitas lulusan mencapai 430 orang dari 10 generasi.
Mereka tidak hanya mengisi posisi di studio-studio animasi nasional, tetapi juga terlibat dalam proyek prestisius seperti film animasi JUMBO hingga karya mapping 3D yang kini menghiasi ruang publik di Sarinah.
Irene Umar memberikan apresiasi khusus pada bagaimana sekolah non-formal ini mampu menghasilkan praktisi yang langsung “siap tempur” di bidang 3D Animation, UI/UX Design, hingga Software Development.
Lebih dari sekadar sekolah, DOES University kini bertransformasi menjadi ekosistem berkelanjutan melalui proses transisi kepemimpinan kepada para alumninya sendiri sebagai bukti nyata keberhasilan transfer pengetahuan dan nilai sosial.
Erix Soekamti menekankan bahwa kemandirian pengelolaan oleh lulusan adalah langkah strategis untuk memperkuat posisi bangsa sebagai salah satu kekuatan ekonomi kreatif utama di Asia Tenggara.


