Lyrids 2026: Saat Bumi Menabrak ‘Jejak Komet’, Langit Malam Jadi Panggung Kosmik

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Langit malam periode April 2026 akan mengalami fenomena yang bukan sekadar gelap. Langit bakal berubah jadi panggung kosmik saat Bumi melintasi jejak debu komet purba.

Inilah momen hujan meteor Lyrids, fenomena tahunan yang kembali mencapai puncaknya pada 22 April hingga dini hari setelahnya.

- Advertisement -

Peristiwa ini bukan hal baru dalam sejarah manusia. Laporan yang dikutip NBC New York menyebut Lyrids sudah diamati sejak sekitar 2.500 tahun lalu.

“Menjadikannya salah satu hujan meteor tertua yang pernah dicatat,” demikian dikutip pada Rabu, (22/4/2026).

- Advertisement -

Fenomena ini terjadi saat Bumi melintasi sisa-sisa komet Thatcher, benda langit yang terakhir melintas di tata surya bagian dalam pada 1861. Setiap tahun, serpihan kecil yang ditinggalkan komet tersebut bertabrakan dengan atmosfer Bumi dan terbakar. Kondisi itu menciptakan garis-garis cahaya yang kita kenal sebagai ‘bintang jatuh’.

“Kita hanya bisa melihat komet sebenarnya sekali setiap 415 tahun,” kata Maria Valdes, peneliti meteorit di School of the Art Institute of Chicago, kepada NBC New York.

Menurut dia, manusia hanya bisa melewati butiran-butiran yang tertinggal di belakangnya setiap tahun.

“Tetapi kita melewati butiran-butiran yang tertinggal di belakangnya setiap tahun sekitar waktu yang sama,” ujar Maria.

Tahun ini, kondisi pengamatan disebut lebih menguntungkan. Langit yang minim gangguan cahaya bulan lantaran fase sabit yang redup, membuat meteor tampak lebih jelas dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Selama puncaknya, hujan meteor Lyrids dapat menghasilkan sekitar 10 hingga 20 meteor per jam. Meski tidak sepadat hujan meteor lain, Lyrids memiliki ciri khas berupa ‘bola api’ meteor terang yang melesat cepat dan terkadang meninggalkan jejak asap di langit.

Fenomena ini akan tampak berasal dari konstelasi Lyra di langit timur laut, meski meteor dapat melintas ke berbagai arah dengan kecepatan tinggi, sebagaimana dilaporkan The Guardian.

Cara Menyaksikan Lyrids

Untuk menikmati pertunjukan langit ini, lokasi menjadi faktor penting. Area terbuka yang jauh dari lampu kota dan gedung tinggi menjadi pilihan terbaik agar langit terlihat lebih gelap.

Pengamat juga disarankan memberi waktu sekitar 20 hingga 30 menit agar mata beradaptasi dengan kegelapan. Menghindari cahaya dari ponsel menjadi langkah penting agar sensitivitas penglihatan tetap optimal.

Tidak diperlukan teleskop atau alat khusus. Cukup berbaring santai di kursi atau alas tidur, lalu arahkan pandangan ke langit luas dan tunggu ‘kembang api’ alami tersebut melintas.

Setelah Lyrids berakhir, langit malam tidak akan lama sepi. Fenomena berikutnya sudah menanti pada Mei, yakni hujan meteor Eta Aquarids yang berasal dari sisa komet Halley.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru