HOLOPIS.COM, BEKASI – Program Sekolah Rakyat kembali menunjukkan dampak nyata. Tak hanya memberikan pendidikan gratis, sekolah ini juga berhasil mengasah bakat siswa dari keluarga kurang mampu hingga berprestasi di berbagai bidang.
Di Sekolah Rakyat SRMA 13 Bekasi, para siswa tak hanya belajar di kelas, tetapi juga aktif mengembangkan minat melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah cabang Taekwondo. Tim sekolah ini sukses meraih 2 medali emas, 1 perak, dan 1 perunggu dalam Bekasi Open III Taekwondo Championship 2026 yang digelar pada 3–5 April 2026.
Prestasi ini menjadi pencapaian perdana bagi ekstrakurikuler taekwondo di sekolah tersebut. Dukungan penuh dari sekolah, mulai dari pelatih hingga biaya kejuaraan, menjadi faktor penting keberhasilan mereka.
“Terima kasih Pak Presiden (Prabowo Subianto) karena sudah mengadakan Sekolah Rakyat bagi kami. Kami bisa menyalurkan hobi dan melanjutkan sekolah di sini,” ujar Erin, Adestyawan, Halikinos, dan Fatan yang dikutip Holopis.com, sabtu (18/4/2026).
Tak Hanya Bela Diri, Seni Tari Juga Berprestasi

Menariknya, ekstrakurikuler pencak silat awalnya tidak tersedia. Program ini kemudian dihadirkan setelah adanya permintaan dari siswa.
“Kami bersyukur bisa bersekolah di sini karena selalu difasilitasi dan mendapat dukungan yang sangat kuat,” kata Jumaroh.
Tak ketinggalan, kelompok seni tari juga menorehkan prestasi dengan meraih juara 3 dalam Lomba Pentas Seni Budaya Nusantara tingkat Kota Bekasi.
“Aku senang hobi aku didukung banget sama Sekolah Rakyat. Semua difasilitasi, jadi tidak bayar sama sekali,” ujar salah satu siswa.
Dari Disiplin hingga Berani Bermimpi
Kepala sekolah, Lastri Fajarwati, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga membuka peluang masa depan bagi siswa yang sebelumnya kurang beruntung.
“Tujuan Sekolah Rakyat ini sangat mulia. Negara hadir untuk masyarakat yang tidak mampu melalui bantuan jangka panjang,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembinaan kedisiplinan menjadi kunci, terutama karena banyak siswa berasal dari latar belakang sulit.
Pendampingan juga dilakukan oleh wali asuh seperti Arya Endang Purnama yang berperan dalam membentuk karakter siswa.
“Melalui mentoring, kami mengajarkan etika, perilaku, dan pembiasaan hidup,” jelasnya.
Arya bahkan mengingat momen haru saat seorang siswa bertanya, “Emang saya boleh punya mimpi ya, Pak?”
Kini, perubahan terbesar bukan hanya soal prestasi, tetapi keberanian siswa untuk bermimpi dan percaya diri menatap masa depan.


