HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gejolak di lingkar kekuasaan Washington kembali memanas. Mundurnya Menteri Tenaga Kerja AS, Lori Chavez-DeRemer, dari kabinet Presiden Donald Trump memicu reaksi keras dari kubu oposisi.
Partai Demokrat dalam pernyataannya bahkan menyebut peristiwa ini sebagai sinyal melemahnya stabilitas pemerintahan Trump. Partai Demokrat menyinggung pemecatan Jaksa Agung Pam Bondi dan Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem.
“Pemerintahan ini sedang runtuh,” kata Partai Demokrat dikutip pada Selasa, (21/4/2026).
Chavez-DeRemer, mantan anggota parlemen dari Oregon, sebelumnya sudah lama jadi sorotan. Sejumlah kontroversi mengiringi masa jabatannya sebagai menteri, mulai dari dugaan pelanggaran profesional hingga isu pribadi.
Ia disebut menghadapi tuduhan serius, termasuk dugaan perselingkuhan dengan anggota tim keamanannya. Begitu juga isu penggunaan sumber daya pemerintah untuk kepentingan pribadi.
Menurut sumber yang dikutip media internasional, tekanan terhadap posisinya terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Hal itu yang akhirnya berujung pada pengunduran diri.
Gedung Putih Buka Suara
Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Chavez-DeRemer telah meninggalkan jabatannya. Informasi serupa juga diperkuat oleh laporan yang menyebutkan bahwa ia mundur di tengah badai tuduhan yang belum mereda.
Direktur komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menjelaskan Chavez-DeRemer akan melanjutkan karier di sektor swasta.
Menurut Cheung, figure Chavez sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam perannya dengan melindungi pekerja AS.
“Memberlakukan praktik ketenagakerjaan yang adil, dan membantu warga Amerika memperoleh keterampilan tambahan untuk meningkatkan kehidupan mereka,” kata Cheung.
Sementara itu, posisi Menteri Tenaga Kerja untuk sementara akan diisi oleh wakilnya, Keith Sonderling.
Sebelum pengunduran diri ini, spekulasi mengenai masa depan Chavez-DeRemer memang sudah menguat. Berbagai laporan menyebut posisinya berada di ujung tanduk akibat akumulasi kontroversi.
Selain dugaan penyalahgunaan kekuasaan, ia juga dituding melakukan tindakan tidak profesional, termasuk konsumsi alkohol saat menjalankan tugas dan hubungan tidak pantas dengan bawahannya.

