Muak dengan Trump, Iran Ogah Hadiri Perundingan Kedua di Pakistan

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Keputusan Iran yang tak mau menghadiri putaran kedua perundingan dengan Amerika Serikat (AS) di Pakistan jadi titik balik yang memperlihatkan rapuhnya jalur diplomasi kedua negara. Alih-alih meredakan konflik, situasi justru bergerak ke arah konfrontasi terbuka.

Pemerintah Iran secara tegas menyatakan absen dari agenda negosiasi pekan ini. Dalam pernyataan resmi yang dikutip kantor berita negara, Islamic Republic News Agency (IRNA), Teheran menilai pendekatan Washington sudah melampaui batas kewajaran diplomasi.

- Advertisement -

Dalam laporannya, IRNA menyampaikan Iran absen di putaran kedua karena tuntutan Washington yang berlebihan. Iran sudah muak dengan pernyataan Donald Trump yang dicap tak realistis dan perubahan sikapnya yang terus-menerus.

“Kontradiksi (Trump) yang berulang, dan blokade angkatan laut yang sedang berlangsung, yang dianggapnya sebagai pelanggaran gencatan senjata,” demikian laporan IRNA dikutip pada Senin, (20/4/2026).

- Advertisement -

Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa perundingan damai akan kembali digelar dalam waktu dekat di Pakistan. Klaim tersebut kini terpatahkan oleh sikap keras Teheran yang memilih menarik diri.

Penolakan Iran tak lepas dari situasi di kawasan Teluk yang memanas, terutama terkait blokade angkatan laut yang masih berlangsung. Teheran menganggap langkah tersebut sebagai bentuk tekanan militer yang bertentangan dengan semangat gencatan senjata yang akan segera berakhir.

Ketegangan semakin meningkat setelah Trump kembali melontarkan peringatan keras. Ia mendesak Iran untuk menerima kesepakatan yang ditawarkan. Hal itu termasuk menyerahkan material nuklir serta membuka jalur strategis Selat Hormuz.

“Kami menawarkan KESEPAKATAN yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap Pembangkit Listrik, dan setiap Jembatan, di Iran,” tulis Trump di Truth Social pada Minggu.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa opsi militer masih berada di atas meja, sekaligus mempersempit ruang kompromi.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, merespons keras ancaman Trump. Ia menolak tudingan bahwa negaranya tengah mengembangkan senjata nuklir.

Ia menegaskan bahwa program yang dijalankan murni untuk kebutuhan energi.

Pezeshkian juga menilai tindakan negaranya selama ini sebagai bentuk pertahanan diri di tengah tekanan dari AS dan sekutunya.

“Kami adalah pasifis dan apa yang kami lakukan adalah pembelaan diri yang sah,” kata Pezeshkian kepada Press TV.

Dengan gencatan senjata yang akan segera berakhir, absennya Iran dari meja perundingan memperbesar risiko eskalasi konflik. Upaya diplomasi yang sebelumnya diharapkan menjadi jalan keluar kini justru seperti di ujung tanduk.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru