Gencatan Senjata AS – Iran Terancam Berakhir, Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gencatan senjata rapuh selama dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4) malam waktu setempat. Kondisi ini membayangi peluang perundingan lanjutan sekaligus meningkatkan ketidakpastian di kawasan strategis Selat Hormuz, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menyebut perpanjangan gencatan senjata sebagai “sangat kecil kemungkinannya”.

“Jika tidak ada kesepakatan, saya tentu memperkirakannya,” demikian jawaban Donald Trump, dikutip Holopis.com, Selasa (21/4).

- Advertisement -

Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya Washington menjaga jalur diplomatik tetap terbuka. Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin putaran pertama perundingan tatap muka, dijadwalkan berangkat ke Islamabad pada Selasa (21/4) untuk melanjutkan pembicaraan, seperti dilansir Axios.

Trump juga memberi sinyal keterbukaan bersyarat untuk berdialog. Kepada The Washington Post, ia menyatakan bersedia bertemu dengan para pemimpin senior Iran jika terdapat terobosan. Namun, dalam wawancara terpisah dengan Bloomberg, ia menilai kehadiran pribadinya dalam perundingan mungkin tidak diperlukan.

- Advertisement -

Di sisi lain, respons dari Teheran masih belum konsisten. Axios melaporkan bahwa tim Iran telah mendapat lampu hijau dari pemimpin tertinggi pada Senin (20/4) malam untuk terlibat dalam perundingan dengan AS. Meski demikian, para pejabat Iran belum memberikan konfirmasi resmi.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa Iran belum memiliki rencana untuk menggelar putaran kedua perundingan. Ia juga menilai langkah-langkah AS tidak menunjukkan keseriusan dalam menempuh jalur diplomasi.

Senada, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyebut “tindakan provokatif” dan “pelanggaran gencatan senjata” oleh AS sebagai hambatan utama bagi kelanjutan proses damai.

Seorang pejabat senior Iran, yang berbicara secara anonim kepada The Washington Post, menilai pernyataan publik Trump serta blokade yang masih berlangsung menjadi dua isu utama yang mengancam perundingan. Ia menyebut bahwa meskipun kedua pihak telah menyepakati garis besar kesepakatan, sikap “maksimalisme” Trump berisiko menggagalkan kemajuan diplomatik.

Ketegangan juga terus meningkat di Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global. Iran sempat membuka kembali selat tersebut setelah gencatan senjata awal, namun kembali memberlakukan pembatasan setelah Angkatan Laut AS menyita kapal kargo berbendera Iran yang mencoba menembus blokade.

Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga kesepakatan damai tercapai.

“Mereka ingin saya membukanya. Orang-orang Iran sangat menginginkan selat itu dibuka. Saya tidak akan membukanya sampai kesepakatan ditandatangani,” ujarnya.

Di tengah kebuntuan tersebut, sejumlah tanda pemulihan mulai terlihat di dalam negeri Iran. Otoritas Penerbangan Sipil Iran mengumumkan bahwa Bandara Internasional Imam Khomeini dan Bandara Internasional Mehrabad di Teheran telah kembali dibuka untuk penerbangan penumpang setelah sebelumnya ditutup selama beberapa pekan akibat konflik.

Sebelumnya, gencatan senjata awal sempat dipandang sebagai langkah deeskalasi yang signifikan setelah lebih dari tujuh pekan konflik. Namun, putaran pertama perundingan di Islamabad awal bulan ini belum menghasilkan terobosan, dengan kedua pihak masih saling melontarkan kritik di ruang publik.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru