HOLOPIS.COM, Jakarta — Di balik nama besar Try Sutrisno, anak-anaknya justru tumbuh tanpa keistimewaan. Mereka dilarang menikmati privilege, demi satu jadi diri sendiri dan berdiri di kaki sendiri.
Nama besar sering kali jadi tiket emas. Tapi di keluarga Try Sutrisno, cerita itu tidak berlaku.
Hal ini diungkap langsung oleh sang istri, Tuti Sutiawati. Ia menyebut sejak awal, keluarga mereka sepakat bahwa nama besar bukan alat bantu, apalagi jalan pintas.
“Bapak selalu mengajarkan, be yourself, jadilah dirimu sendiri,” ujarnya program talkshow ROSI.
Menurut Tuti, yang penting bukan siapa orang di belakang kita, tapi apa yang kita lakukan sebagai individu.
Ia menegaskan, kebaikan harus lahir dari diri sendiri, bukan karena ingin terlihat baik di mata orang lain.
Dalam keluarga mereka, identitas bukan warisan yang dipamerkan, melainkan tanggung jawab yang dijaga.
Sejak kecil, anak-anak dibiasakan hidup tanpa bayang-bayang fasilitas.
Mereka dilatih mandiri, percaya diri, dan yang paling penting tidak bergantung pada nama ayahnya.
Bahkan, hal yang terdengar sepele seperti penggunaan nama pun punya makna besar.
Anak-anaknya tidak memakai nama “Try Sutrisno” dalam identitas mereka.
Bukan karena malu, tapi justru karena ingin membuktikan kemampuan diri tanpa embel-embel siapa orang tuanya.
Cerita lain datang dari anak ketujuhnya, Natalia Indrasari. Ia mengakui, keputusan itu bukan tanpa konsekuensi.
Dalam kehidupan sehari-hari, bahkan hingga ke luar negeri, perbedaan nama sempat memicu kendala administratif.
Namun di balik itu semua, ada prinsip yang dijaga rapat.
Natalia menegaskan, kebanggaan sebagai anak seorang tokoh tetap ada, tapi tidak untuk dipamerkan demi kepentingan pribadi.
Nama besar, bagi mereka, bukan alat untuk membuka pintu melainkan sesuatu yang harus dijaga agar tidak disalahgunakan.
Kisah serupa juga disampaikan oleh anak keduanya, Taufik Dwi Cahyono.
Ia menyebut perjalanan karier sang ayah yang panjang hingga menjadi wakil presiden justru menghadirkan tekanan tersendiri.
Ekspektasi publik seperti bayangan yang terus mengikuti, tak peduli seberapa jauh ia melangkah.
Meski begitu, ada filosofi hidup yang terus dipegang. Ia mengingat pesan sang ayah yang terdengar seperti perumpamaan jalan hidup.
Jika orang lain berjalan di jalan lurus dan datar, maka mereka justru harus siap melewati jalan berbatu, berlumpur, bahkan dengan beban di punggung.
Lebih tegas lagi, Taufik mengungkap bahwa istilah “privilege” nyaris tak punya tempat di keluarganya.
Bahkan saat menjabat, Try Sutrisno secara terang-terangan melarang siapa pun memberikan fasilitas kepada anak-anaknya.
Pesannya lugas: jangan pernah beri mereka apa pun selama ia masih memiliki jabatan.
Prinsip itu bukan sekadar kata-kata. Dalam praktiknya, aturan itu benar-benar dijalankan.
Anak-anaknya tumbuh dengan kesadaran bahwa setiap pencapaian harus diraih sendiri, bukan diwariskan.
Jika jatuh, ya bangkit sendiri. Jika salah, ya tanggung sendiri.
Di tengah dunia yang sering kali memuja koneksi dan privilese, kisah keluarga ini terasa seperti angin yang datang dari arah berlawanan.


