HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri luar negeri dari Uni Emirat Arab, Turkiye, Mesir, Yordania, Pakistan, Arab Saudi, Qatar, termasuk Indonesia, mengecam keras pelanggaran berulang yang dilakukan Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza.
“Tindakan-tindakan ini berisiko meningkatkan ketegangan dan merusak upaya yang bertujuan memperkuat situasi kondusif serta memulihkan stabilitas,” demikian pernyataan bersama para menteri luar negeri tersebut, dikutip Holopis.com, Minggu (2/2).
Dalam pernyataan itu, para menlu menegaskan pentingnya komitmen penuh terhadap pelaksanaan fase kedua gencatan senjata. Mereka juga mendesak seluruh pihak untuk menjalankan tanggung jawab secara menyeluruh selama periode yang dinilai krusial ini.
Para menteri menyerukan agar semua pihak menahan diri semaksimal mungkin guna menjaga keberlangsungan gencatan senjata. Mereka juga mengingatkan agar tidak melakukan tindakan apa pun yang berpotensi merusak proses yang sedang berjalan serta menghambat upaya pemulihan dan rekonstruksi di Gaza.
Selain itu, para menlu kembali menegaskan pentingnya mendorong terwujudnya perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Perdamaian tersebut, menurut mereka, harus didasarkan pada hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan membentuk negara, sesuai hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sebelumnya pada hari yang sama, Ali Abdel Hamid Shaath, Kepala Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (National Committee for the Administration of Gaza/NCAG), juga menyerukan kepatuhan penuh terhadap gencatan senjata yang sedang berlangsung.
“NCAG bersama mitra-mitranya berkomitmen untuk mencegah insiden lebih lanjut dan melindungi warga sipil. Jalan ke depan harus didasarkan pada pengendalian diri, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap kehidupan warga sipil,” kata Shaath.
Gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 setelah konflik berlangsung selama hampir dua tahun. Kesepakatan tersebut tercapai melalui mediasi Mesir, Qatar, Turkiye, dan Amerika Serikat.
Menurut laporan terbaru otoritas kesehatan Gaza pada Minggu, hampir 71.800 warga Palestina tewas dan lebih dari 171.500 orang terluka sejak operasi militer Israel dimulai pada Oktober 2023. Dalam 24 jam terakhir, tercatat 26 orang tewas dan 68 lainnya luka-luka, sementara sejumlah korban dilaporkan masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan dan di jalan-jalan yang belum dapat dijangkau tim penyelamat.


