Profil Marsinah Seorang Aktivis dari Nganjuk Diberi Gelar Pahlawan Nasioanl: Simbol Keberanian Buruh Indonesia

0 Shares

Masa Kecil dan Pendidikan

Marsinah lahir di keluarga sederhana di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak kecil, Marsinah tumbuh sebagai anak yang mandiri dan cerdas. Ibunya meninggal dunia saat ia baru berusia tiga tahun, membuatnya harus belajar bertanggung jawab lebih cepat dari teman-teman seusianya.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Nglundo 2 Sukomoro, lalu dilanjutkan ke SMPN 5 Nganjuk dan SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk. Meski berprestasi, Marsinah tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomi.

Karier dan Awal Perjuangan

Selepas SMA, Marsinah bekerja di beberapa tempat sebelum akhirnya diterima di pabrik arloji PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo. Di sana, ia dikenal rajin, kritis, dan sering membantu rekan-rekannya memahami aturan ketenagakerjaan.

Marsinah aktif membaca koran dan mengikuti kursus untuk menambah wawasan. Kepeduliannya pada sesama buruh membuatnya menjadi sosok yang disegani di lingkungan kerja.

Aksi Buruh dan Tragedi 1993

Pada awal Mei 1993, Marsinah ikut memimpin aksi mogok kerja untuk menuntut hak buruh yang diabaikan perusahaan, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak terhadap puluhan pekerja.
Setelah aksi berlangsung pada 3–4 Mei 1993, Marsinah menghilang pada 5 Mei, dan empat hari kemudian jasadnya ditemukan di Desa Jegong, Nganjuk. Hasil autopsi menunjukkan ia mengalami kekerasan sebelum meninggal dunia.

Peristiwa ini memicu gelombang protes nasional dan menjadi simbol perjuangan hak asasi manusia di Indonesia.

Warisan Perjuangan

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Ronalds Petrus Gerson
Ronalds Petrus Gerson
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU