Santri Punya Budaya : Ngesot, Nunduk dan Cium Tangan Jadi Ekspresi Cinta

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketua Pengurus Anak Cabang atau PAC Ansor Kecamatan Mlonggo, Iga Kurniawan menyatakan menjelaskan bahwa di dalam Pondok Pesantren, ada sebuah kultur yang sangat kuat dan kental.

Bahkan apa yang sempat diperdebatkan tentang sikap nunduk hingga cium tangan santri kepada kiainya, merupakan bagian dari ekspresi penghormatan dan cinta.

“Bagi kami para santri, ngesot, nunduk dan mencium tangan adalah ekspresi cinta kami pada kiai dan pesantren,” kata Iga dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Rabu (22/10/2025).

Ia menegaskan bahwa sikap semacam itu bukanlah permintaan para kiai, melainkan sebuah tradisi yang diajarkan dalam kultur pesantren, dan menjadi sebuah istilah “andap ashor” bagi santri kepada orang yang lebih alim, khususnya ustadz maupun kiai atau masyayikh.

“Kiai kami tidak pernah sekali-kali meminta, apalagi memaksa para santri untuk berbuat demikian. Kami sendiri, atas kehendak sendiri dan dengan kesadaran penuh yang memilih untuk melakukan itu,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyinggung tentang ro’an yang sempat menjadi materi di Xpose Uncensored Trans 7 dan menjadi polemik besar di Indonesia beberapa hari yang lalu.

- Advertisement -

Ro’an atau dalam istilah pesantren adalah membantu misalnya membangun bangunan Pondok Pesantren, bukan juga bagian dari perbudakan. Justru itu adalah sarana yang paling dinanti oleh para santri untuk bisa mengabdi langsung dengan pesantren melalui tangannya sendiri.

“Sementara ngecor, dan berbagai bentuk kerja bakti merupakan bentuk bakti kami pada kiai dan pesantren yang kami cintai. Kami dengan bangga dan penuh suka cita menjalani itu semua, tanpa paksaan dan tekanan,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Iga pun menekankan bahwa dalam budaya santri di pesantren tersebut tidak bisa disebut sebagai bagian dari konsep feodalisme dan perbudakan. Sebab seluruhnya dilakukan bukan atas perintah dan paksaan dari siapa pun, termasuk dari kiai dan pengasuh Pondok Pesantren, melainkan murni dari kemauan dan kegembiraan para santri secara sadar.

Bahkan ia pun memberikan penekanan lanjutan, bahwa Pondok Pesantren bukan lembaga yang hanya mengajarkan ilmu pengetahuan saja, akan tetapi juga mengajarkan nilai dan adab yang akhirnya menjadi budaya yang kental di kalangan pesantren atau santri.

“Jika demikian itu kalian sebut sebagai feodalisme dan perbudakan, maka bagaimana kalian menyebut seorang laki-laki yang jongkok dengan menyodorkan kotak berisi cincin saat melamar pasangannya?. Bagaimana kalian sebut para pejabat yang menunduk di hadapan atasannya?,” tegasnya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Muhammad Ibnu Idris
Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU