Pertama adalah melakukan literasi dan narasi kontra radikalisme kepada semua kalangan, baik lintas organisasi, kelompok maupun individu. Bagaimana mereka diajarkan tentang akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah (Asy’ariyah–Maturidiyah).
Dengan memberikan literasi yang baik, maka semuanya diharapkan dapat belajar tidak sekadar tekstual, melainkan mampu melihat agama dalam kontekstualitas agar tidak jatuh pada literalisme kaku.
Strategi penyebaran harus bersifat berjenjang dan adaptif, misalnya ; diskusi masif di masyarakat baik offline dan online. Kemudian memproduksi konten singkat berbasis hadis-hadis rahmah dan ukhuwah, dilakukan sengan berkolaborasi para ulama hingga content creator.
Selanjutnya, dapat juga melibatkan mantan pelaku sebagai pembawa pesan atau (messenger), sehingga pesan yang disampaikan jauh lebih bisa didengarkan dan lebih kredibel.
“kontranarasi harus diarahkan secara spesifik kepada dua sasaran, yakni eks-napiter atau mereka yang sudah punya pengalaman ideologis, dan kelompok rentan atau mereka yang baru terpapar,” tutur dewan pakar Rumah Wasathiyah, Irjen Pol (purn) Hamli.
Lantas dapat melakukan pendekatan jangka panjang dengan cara mendorong revitalisasi pengajaran akidah Aswaja di pesantren dan ruang publik.
Dalam perspektifnya, cendekiawan muslim dari Ponpes Darussunnah Ustadz Izzah Farhatin Ilmi menyarankan agar ada modul literasi keislaman kontekstual untuk masyarakat perkotaan dan kalangan muda. Serta mengembangkan forum lintas-ulama dan akademisi untuk mengkaji ulang kitab-kitab yang sering disalahpahami. Tujuannya adalah untuk memasifkan teladan Rasulullah SAW tentang pentingnya menjaga perdamaian.
“Tradisi perdamaian adalah teladan Nabi. Hadis-hadis tentang kasih sayang, perlakuan terhadap tetangga, dan penghormatan lintas agama harus dimunculkan sebagai inspirasi narasi damai,” tegasnya.
FGD tersebut dihadiri para cendekiawan dan tokoh muslim muda. Termasuk di antaranya adalah pakar Turots dan alumni Universitas Al Azhar Mesir Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, kemudian salah satu pengasuh pondok pesantren Dr Mohammad Yusni Amru Ghazali, pakar terorisme dan peneliti di Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial, Universitas Indonesia (UI) Solahuddin, dan masih banyak yang lainnya.
Mereka pun dengan sukarela saling berbagi pemahaman dan pandangan tentang bagaiman berislam yang moderat, sehingga mewujudkan Indonesia yang damai dan saling berukhuwah.



