HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ada satu tanggal yang sering luput dari perhatian banyak orang, padahal punya makna besar untuk masa depan dunia. Setiap 11 Oktober, dunia memperingati Hari Anak Perempuan Sedunia — International Day of the Girl Child. Tapi tahukah kamu, bagaimana kisah di balik penetapan hari ini, dan mengapa dunia sampai merasa perlu merayakannya?
Segalanya berawal dari satu gagasan sederhana namun kuat, di mana anak perempuan di seluruh dunia menghadapi tantangan yang unik, dan suara mereka harus diakui. Bahkan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pun menyatakan bahwa anak-anak perempuan dunia berhak mendapatkan hak yang sama dengan masyarakat lain.
“Setiap gadis, di mana pun, berhak memperoleh kesetaraan, kesempatan, dan martabat,” kata Guterres seperti dikutip Holopis.com dari United Nation (PBB), Sabtu (11/10/2025).
Lanjut, gagasan itu mulai mengemuka pada tahun 1995, ketika dunia berkumpul di Konferensi Dunia tentang Perempuan di Beijing. Dari sana lahir Beijing Declaration and Platform for Action — sebuah cetak biru global yang untuk pertama kalinya menyoroti secara tegas hak-hak anak perempuan. Dokumen ini menjadi dasar bagi berbagai gerakan global yang memperjuangkan agar anak perempuan mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan kesempatan yang sama seperti anak laki-laki.
Namun perjuangan untuk menghadirkan momentum khusus bagi anak perempuan baru benar-benar terwujud bertahun-tahun kemudian. Pada 19 Desember 2011, Majelis Umum PBB akhirnya mengesahkan Resolusi 66/170 yang menetapkan 11 Oktober sebagai International Day of the Girl Child.
Penetapan ini bukan sekadar simbolik — ia adalah bentuk pengakuan bahwa dunia masih punya pekerjaan rumah besar untuk memastikan setiap anak perempuan bisa tumbuh dengan martabat, pendidikan, dan kebebasan dari kekerasan.
Peringatan pertama berlangsung pada tahun 2012 dengan tema “My Life, My Right: End Child Marriage”. Fokusnya sangat jelas: mengakhiri praktik pernikahan anak yang masih marak di banyak negara. Dari situlah, setiap tahun PBB dan berbagai lembaga internasional mengusung tema yang berbeda-beda, menyesuaikan dengan tantangan zaman.
International Day of the Girl Child : The Girl I Am, The Change I Lead: Girls on the Front Lines of Crisis
Misalnya pada 2016, dunia menyoroti pentingnya data global tentang anak perempuan dengan tema “Girls’ Progress = Goals’ Progress”. Sementara tahun 2024 lalu, tema “Girls’ Vision for the Future” mengajak dunia mendengarkan langsung suara generasi muda perempuan tentang seperti apa masa depan yang mereka impikan.
Tahun 2025 ini, semangat itu semakin kuat dengan tema “The Girl I Am, The Change I Lead: Girls on the Front Lines of Crisis”, yang menyoroti anak-anak perempuan yang menjadi garda terdepan menghadapi krisis global — dari konflik, perubahan iklim, hingga bencana kemanusiaan.
Mengapa hari ini penting? Karena hingga kini, jutaan anak perempuan di berbagai penjuru dunia masih menghadapi ketidaksetaraan yang nyata. Banyak dari mereka yang harus berhenti sekolah lebih cepat, dinikahkan di usia muda, atau menjadi korban kekerasan dan diskriminasi.
Dalam situasi darurat seperti perang atau bencana, anak perempuan sering kali menjadi kelompok paling rentan — kehilangan rumah, akses pendidikan, bahkan keamanan dasar. Mereka jarang punya ruang untuk bersuara, padahal mereka menyimpan potensi besar untuk menjadi pemimpin masa depan.
Namun di balik semua tantangan itu, ada sinar harapan yang terus tumbuh. Semakin banyak negara dan komunitas lokal yang mulai menyadari pentingnya memberdayakan anak perempuan. Program pendidikan gratis, perlindungan terhadap pernikahan anak, hingga pelatihan kepemimpinan bagi remaja perempuan kini mulai tumbuh di berbagai wilayah.
Di banyak tempat, anak-anak perempuan tak lagi hanya menjadi penerima bantuan — mereka tampil sebagai pemimpin, penemu solusi, bahkan penggerak perubahan sosial di komunitasnya.
Momentum 11 Oktober seolah mengingatkan kita bahwa dunia yang setara tak bisa dibangun hanya oleh kebijakan, tetapi juga oleh empati dan dukungan nyata. Anak perempuan berhak bermimpi besar, memilih jalan hidupnya sendiri, dan menjadi bagian dari percakapan global tentang masa depan.
Kita, sebagai masyarakat, punya tanggung jawab untuk memastikan pintu itu tetap terbuka bagi mereka — bukan hanya hari ini, tapi setiap hari.
Peringatan Hari Anak Perempuan Sedunia juga mengajarkan bahwa kesetaraan gender bukan hanya urusan perempuan, tetapi urusan seluruh umat manusia. Setiap anak perempuan yang mendapatkan pendidikan adalah investasi bagi masa depan bangsa. Setiap yang terhindar dari kekerasan adalah langkah menuju masyarakat yang lebih beradab. Dan setiap yang berani bermimpi, adalah bukti bahwa dunia sedang bergerak ke arah yang lebih baik.
Jadi, saat 11 Oktober tiba, jangan anggap ia hanya sebagai tanggal di kalender. Anggaplah ia sebagai panggilan nurani — untuk mendengar, menghargai, dan mendukung anak-anak perempuan di sekitar kita. Sebab mungkin saja, dari mereka akan lahir generasi baru yang menulis ulang sejarah, dengan pena keberanian dan kertas keadilan.


