HOLOPIS.COM, JAKARTA – Lipstik bukan sekadar produk kosmetik untuk mempercantik penampilan. Bagi banyak orang, sapuan warna di bibir mampu memberikan rasa percaya diri, melengkapi gaya berpakaian, bahkan menjadi cara untuk mengekspresikan kepribadian. Tak heran jika lipstik menjadi salah satu produk makeup yang paling banyak dimiliki dan digunakan oleh berbagai kalangan di seluruh dunia.
Seiring berkembangnya tren kecantikan, lipstik juga terus berevolusi. Kini tersedia dalam beragam pilihan warna, tekstur, hingga formula, mulai dari matte, satin, glossy, hingga lip tint yang disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Meski tren makeup terus berubah dari waktu ke waktu, popularitas lipstik seolah tak pernah pudar.
Karena pengaruhnya yang begitu besar dalam dunia kecantikan, setiap 29 Juli diperingati sebagai Hari Lipstik Sedunia (National Lipstick Day). Peringatan ini menjadi momen untuk merayakan sejarah panjang lipstik yang telah menemani peradaban manusia selama ribuan tahun.
Berawal dari Peradaban Kuno
Sejarah lipstik diperkirakan sudah dimulai sekitar 5.000 tahun lalu. Bangsa Sumeria di Mesopotamia dipercaya menjadi salah satu peradaban pertama yang menggunakan bubuk batu permata sebagai pewarna bibir. Tradisi tersebut kemudian berkembang di Mesir Kuno, di mana lipstik digunakan oleh perempuan maupun laki-laki sebagai simbol status sosial dan kekuasaan.
Salah satu tokoh yang paling identik dengan lipstik adalah Ratu Cleopatra. Ia diyakini menggunakan pewarna bibir berbahan alami untuk menghasilkan warna merah yang khas, sehingga riasan bibir menjadi bagian penting dari penampilannya.
Meski begitu, perjalanan lipstik tidak selalu mulus. Pada Abad Pertengahan di Eropa, penggunaan kosmetik sempat dipandang negatif dan bahkan dikaitkan dengan praktik sihir. Memasuki era Victoria, perempuan yang memakai riasan mencolok juga kerap mendapat stigma buruk karena dianggap tidak sesuai dengan norma masyarakat saat itu.
Jadi Simbol Kepercayaan Diri hingga Diperingati Sedunia
Pandangan terhadap lipstik mulai berubah pada awal abad ke-20 seiring berkembangnya industri kosmetik. Produk ini mulai diproduksi secara massal sehingga lebih mudah diakses masyarakat. Pada masa yang sama, lipstik merah juga menjadi simbol keberanian bagi perempuan yang memperjuangkan hak pilih di Amerika Serikat.
Peringatan Hari Lipstik Sedunia sendiri mulai dikenal secara luas setelah dipopulerkan oleh pakar kecantikan sekaligus pendiri BeautyStat, Ron Robinson, pada 2016. Sejak saat itu, setiap tanggal 29 Juli banyak merek kosmetik memanfaatkan momen tersebut untuk meluncurkan produk baru, menghadirkan promo khusus, hingga mengajak para pencinta makeup membagikan warna lipstik favorit mereka di media sosial.
Kini, lipstik tak lagi hanya dipandang sebagai alat rias, tetapi juga menjadi simbol kepercayaan diri dan kebebasan berekspresi. Dengan beragam inovasi yang terus bermunculan, produk kecantikan satu ini tetap menjadi favorit lintas generasi dan terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu item makeup yang paling ikonik di dunia.



