Di Balik Mitos Sperma: Dari Risiko Celana Ketat hingga Bahaya Konsumsi Cairan Mani

Konten Dewasa
0 Shares

Berita Relasi :

JAKARTA – Di balik cairan reproduksi pria yang sering dianggap biasa, ternyata tersimpan banyak fakta mengejutkan yang kerap tertutupi mitos. dr. Haekal Anshari, M. Biomed, dengan sabar meluruskan berbagai kesalahpahaman yang beredar di masyarakat.

“Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa mengonsumsi atau mengoleskan sperma memberikan manfaat,” tegas dr. Haekal dengan nada serius.

Advertorial

“Justru sebaliknya, cairan ini berisiko mengandung kuman, bakteri, atau virus penyebab infeksi menular seksual,” ujarnya. Dikutip Holopis dari kanal @katadokter

Fakta yang Tak Terduga

Beberapa fakta yang diungkapkan dr. Haekal cukup mengejutkan. Siapa sangka, pakaian dalam yang kita kenakan sehari-hari bisa mempengaruhi kesuburan?

“Testis membutuhkan suhu yang lebih rendah dari tubuh. Celana dalam ketat dapat meningkatkan suhu testis dan dalam jangka panjang berisiko menurunkan kualitas sperma,” jelasnya.

Tak kalah menarik, tauge yang sering kita jumpai dalam menu sehari-hari ternyata punya manfaat khusus untuk kesuburan pria. “Tauge mengandung vitamin E dan mineral yang bermanfaat membantu produksi sel sperma berkualitas,” ujar dr. Haekal.

Mitos yang Masih Berkembang

Masih banyak mitos yang terus beredar, seperti anggapan bahwa cairan pra-ejakulasi tidak menyebabkan kehamilan. “Ini keliru. Cairan precum atau cairan bening yang keluar sebelum air mani, bisa mengandung sel sperma meskipun sedikit, dan tetap berpotensi menyebabkan kehamilan,” tegasnya.

Mitos lain yang sering dipercaya adalah sperma yang sehat harus kental. Menurut dr. Haekal, “Kualitas dan kuantitas sel sperma hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan mikroskopis di laboratorium. Tampilan fisik cairan mani tidak mewakili kondisi sel sperma.”

Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi

dr. Haekal menekankan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi yang benar di masyarakat. Banyaknya mitos yang beredar menunjukkan masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan reproduksi.

“Informasi yang benar akan membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat untuk kesehatan reproduksinya,” pungkas dr. Haekal.

Nah sobat Holopis, diharapkan masyarakat tidak lagi terjebak dalam mitos-mitos yang justru bisa membahayakan kesehatan ya.

Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares

Berita Terbaru

Jangan Lewatkan