JAKARTA – Presiden Prancis Emmanuel Macron sadar bahwa konflik Iran-Israel memanas, ia pun mengambil langkah konkrit untuk bisa ikut serta meredakan situasi yang ada. Bukan ikut-ikutan mengancam dan menekan satu pihak seperti hal nya Amerika Serikat (AS), namun ada jalan lain yang lebih adil yang bisa diambil.
Seperti yang telah diketahui bersama, bahwa sebelumnya Presiden AS Donald Trump dikabarkan menuntut Iran untuk menyerah tanpa syarat atas konfliknya dengan Israel.
Peringatan tersebut seolah menyulut api konflik supaya lebih besar lagi dengan tindakan militer. Mengingat, Israel merupakan sekutu terdekat bagi AS.
Macron enggan masuk terlalu dalam, yang kemudian berbeda pendapat dengan AS perihal penyelesaian konflik Iran-Israel. Di samping itu, ya, Macron menolak penggunaan senjata nuklir Iran.
“Kami tidak ingin Iran mendapatkan senjata nuklir. Namun, kesalahan terbesar adalah menggunakan serangan militer untuk mengubah rezim, karena bisa terjadi kekacauan,” ungkap Macron, seperti dikutip Holopis.com dari Al Arabiya.
“Dan tanggung jawab kami adalah kembali ke pembicaraan secepat mungkin agar bisa menetapkan kembali arah pada masalah nuklir dan balistik,” tegasnya.
Macron pun menilai bahwa program nuklir Iran itu sendiri harus ada dalam pengawasan internasional, begitu pun dengan persenjataan rudalnya yang memang harus dikurangi.
Akan tetapi Macon juga menentang keras serangan yang menyasar warga sipil hingga infrastruktur energi yang notabene bisa berpengaruh terhadap perubahan rezim.
“Saya juga memikirkan teman-teman kita di kawasan tersebut seperti di Irak, Lebanon dan negara lainnya. Kita perlu membantunya mengurangi segala hal yang memang mengancam keamanan mereka,” pungkasnya.


