JAKARTA – Komedian dan presenter Gustiwiw meninggal dunia pada hari Minggu (15/5) setelah terjatuh di kamar mandi ketika berada di Bandung. Kabar ini pun langung mengejutkan netizen dan dunia hiburan tanah air. Apalagi, pria yang bernama asli Gusti Irwan Wibowo itu masih berusia 25 tahun.
Ibu Gustiwiw, Sri Yulianti kemudian membeberkan bahwa anaknya sempat didiagnosa tensi tinggi hingga kemudian menjadi permasalahan jantung.
“Sempat kata temannya pusing, terus setelah dokter diagnosis, tensinya tinggi terus jadi jantung,” kata ibunya, Sri Yulianti, dikutip Holopis.com, Senin (16/5).
Hal ini pun menjadi banyak pertanyaan netizen terkait kaitan tekanan darah dan juga serangan jantung. Lalu, bagaimana kaitan antara diagnosis tekanan darah tinggi serta akhirnya menjadi serangan jantung?
Ini dia penjelasan yang perlu Sobat Holopis catat!
Apa Kaitannya Diagnosis Tekanan Darah Tinggi dan Serangan Jantung?
Diagnosis tekanan darah tinggi, atau yang secara medis disebut hipertensi, bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Meski awalnya sering tidak menimbulkan gejala yang mencolok, kondisi ini membawa risiko serius terhadap berbagai komplikasi kesehatan, salah satunya yang paling mematikan adalah serangan jantung. Banyak orang tidak menyadari bahwa hipertensi yang dibiarkan tanpa penanganan bisa menjadi ‘silent killer’ karena perlahan merusak organ vital dalam tubuh, terutama jantung.
Untuk memahami bagaimana hipertensi bisa berkaitan erat dengan serangan jantung, penting untuk terlebih dahulu mengetahui apa yang terjadi dalam tubuh ketika tekanan darah terus-menerus berada di atas ambang normal.
Apa Itu Tekanan Darah Tinggi?
Tekanan darah tinggi terjadi ketika kekuatan aliran darah terhadap dinding arteri terlalu tinggi secara konsisten. Nilai normal tekanan darah umumnya berada di sekitar 120/80 mmHg. Jika tekanan darah berada pada atau melebihi 130/80 mmHg secara berulang, maka seseorang dikategorikan mengalami hipertensi.
Hipertensi bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kebiasaan makan tinggi garam, stres kronis, kurang olahraga, kegemukan, hingga faktor genetik. Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah sifatnya yang sering kali tidak menunjukkan gejala jelas, sehingga banyak orang baru menyadarinya setelah mengalami komplikasi, salah satunya serangan jantung.
Bagaimana Hipertensi Mempengaruhi Jantung?
Ketika tekanan darah tinggi terus terjadi, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Seiring waktu, kondisi ini membuat otot jantung menebal dan pembuluh darah mengeras atau menyempit karena tekanan yang berlebih.
- Kerusakan pembuluh darah koroner : Arteri yang memasok darah ke otot jantung bisa mengalami kerusakan, pengerasan, atau penyempitan, sehingga aliran darah ke jantung terganggu.
- Penyumbatan arteri : Hipertensi dapat memicu penumpukan plak (aterosklerosis) di pembuluh darah. Jika plak ini pecah, bisa terbentuk bekuan darah yang menyumbat arteri, menghambat aliran darah ke jantung, dan memicu serangan jantung.
- Penurunan fungsi jantung : Karena beban kerja yang terus meningkat, jantung bisa melemah dan gagal memompa darah secara optimal (gagal jantung).
Mengapa Serangan Jantung Bisa Terjadi?
Serangan jantung, atau dalam istilah medis disebut infark miokard, terjadi ketika aliran darah ke bagian otot jantung terhenti secara mendadak. Jika aliran darah tidak segera dipulihkan, bagian otot jantung yang tidak mendapatkan oksigen akan rusak atau mati.
Pada orang dengan hipertensi, risiko terjadinya sumbatan atau pecahnya plak di arteri koroner jauh lebih tinggi. Serangan jantung bisa terjadi secara tiba-tiba, dan dalam banyak kasus, tanpa tanda-tanda sebelumnya. Ini sebabnya, orang dengan tekanan darah tinggi harus benar-benar waspada dan rutin memantau kondisi jantungnya.
Sobat Holopis, hubungan antara tekanan darah tinggi dan serangan jantung bukanlah sekadar kebetulan medis. Ini adalah fakta yang telah dibuktikan oleh banyak penelitian dan data klinis. Tekanan darah tinggi merusak sistem kardiovaskular secara perlahan dan meningkatkan risiko komplikasi fatal seperti serangan jantung.
Oleh karena itu, mengenali, mengontrol, dan mengelola hipertensi sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga jantung tetap sehat dan berfungsi optimal. Jangan menunggu hingga terlambat, deteksi dini bisa menyelamatkan hidup.


