HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) melaporkan tiga warga Palestina tewas dalam sebuah insiden yang terjadi di wilayah Tepi Barat pada Sabtu malam (7/3). Dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu (8/3), IDF menyebut pasukan mereka bersama Polisi Perbatasan Israel tiba di desa Khirbet Abu Falah, yang terletak di utara Ramallah, setelah menerima laporan mengenai serangan yang dilakukan warga sipil Israel terhadap warga Palestina di wilayah tersebut.
Menurut IDF, dikutip Holopis.com, pasukan keamanan kemudian mengambil langkah pengendalian kerusuhan untuk membubarkan massa yang terlibat dalam insiden tersebut.
Pihak militer Israel menyatakan dua warga Palestina tewas akibat tembakan senjata api, sementara satu orang lainnya meninggal dunia akibat sesak napas.
Sementara itu, kantor berita resmi Palestina, WAFA, melaporkan bahwa korban tewas adalah Thaer Farouq Hamayel (24) dan Farea Jawdat Hamayel (57), yang disebut ditembak di bagian kepala oleh warga sipil Israel.
Korban lainnya, Mohammad Hassan Murra (55), dilaporkan meninggal setelah menghirup gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan Israel.
WAFA juga melaporkan bahwa sedikitnya lima warga Palestina lainnya mengalami luka tembak dalam insiden tersebut. Komandan Komando Pusat Militer Israel, Avi Bluth, menyebut insiden tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dan berbahaya.
Menurutnya, peristiwa itu dapat mengalihkan perhatian Israel dari misi utama dalam bidang pertahanan dan operasi kontraterorisme serta berpotensi mengganggu stabilitas keamanan di kawasan.
Insiden tersebut terjadi sehari setelah seorang warga Palestina dilaporkan tewas dan tiga lainnya mengalami luka serius akibat tembakan pasukan Israel di wilayah Wadi al-Rakhim, Masafer Yatta, di bagian selatan Hebron, menurut sumber Palestina.
Kementerian Luar Negeri Palestina dalam pernyataannya menilai serangan yang dilakukan para pemukim Israel mencerminkan eskalasi yang berbahaya dan bertujuan memaksakan realitas baru terhadap warga Palestina.
Kementerian tersebut juga menuduh Israel memanfaatkan ketegangan regional untuk meningkatkan kekerasan serta mempercepat kebijakan yang bertujuan memperluas permukiman dan mengusir warga Palestina dari wilayah mereka.
Selain itu, Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam pemerintah Israel karena dinilai menghasut tindakan kekerasan serta melindungi para pemukim. Mereka juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk menjatuhkan sanksi terhadap proyek permukiman Israel dan memberikan perlindungan bagi warga Palestina.



