HOLOPIS.COM, JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas rantai pasok global, termasuk sektor energi dan pupuk yang menjadi penopang produksi pangan dunia.
Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan tersebut berpotensi berdampak luas hingga ke Indonesia. Menurutnya, Timur Tengah selama ini memiliki peran penting dalam suplai energi dan bahan baku pupuk yang digunakan banyak negara.
Ia menjelaskan, setiap kali terjadi eskalasi konflik di kawasan strategis tersebut, harga minyak dunia biasanya ikut melonjak. Kondisi itu kemudian berdampak pada kenaikan biaya logistik serta meningkatnya ongkos produksi di berbagai sektor, termasuk pertanian.
“Dampaknya bisa merembet ke ongkos produksi pertanian, pakan, distribusi, hingga harga pangan di tingkat konsumen,” kata Daniel Johan yang akrab disapa DJ, Senin (9/3/2026).
DJ menilai pemerintah perlu bersikap waspada sejak dini, terutama untuk menjaga stabilitas pasokan pupuk dan kebutuhan produksi pertanian lainnya. Ia menekankan bahwa ketahanan pangan nasional tidak boleh terlalu bergantung pada impor, terlebih di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah diminta memastikan ketersediaan berbagai sarana produksi pertanian tetap terjaga. Hal itu mencakup pupuk, benih, hingga dukungan pembiayaan bagi petani.
“Pemerintah perlu memastikan ketersediaan pupuk, benih, dan dukungan pembiayaan bagi petani tetap terjaga, sekaligus menjaga stabilitas harga energi agar biaya produksi tidak melonjak tajam,” ujar politikus Partai Kebangkitan Bangsa tersebut.
Selain itu, DJ juga menyoroti pentingnya memperkuat cadangan pangan nasional sebagai langkah mitigasi jika dampak konflik global semakin meluas. Ia menilai optimalisasi penyerapan hasil panen petani di dalam negeri perlu diperkuat agar stok pangan tetap aman.
Tak hanya itu, pengawasan distribusi pangan juga harus diperketat untuk mencegah praktik spekulasi atau penimbunan yang sering terjadi saat kondisi global bergejolak.
“Biasanya rentan terjadi ketika ada gejolak untuk itu koordinasi lintas kementerian juga penting supaya kebijakan energi, perdagangan, dan pertanian berjalan selaras,” ujar legislator dari daerah pemilihan Kalimantan Barat itu.
Meski demikian, DJ mengakui bahwa dampak konflik global mungkin tidak dapat dihindari sepenuhnya. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat produksi pangan domestik serta memperbaiki manajemen cadangan nasional agar tetap mampu menghadapi potensi krisis.
Untuk diketahui, RI merupakan salah satu importir pupuk organik terbesar di dunia. Pada 2024, posisi RI ada di urutan 11 sebagai importir pupuk terbesar di dunia dengan nilai impor mencapai USD1,85 miliar.



