“Anak-anak muda ini menjadi digital literate dibandingkan dengan eyang dan buyut-buyutnya, jadi ini adalah the next economy yang harus kita kuasai. Kita mendorong artificial intelligence, semi-conductor, dan talenta digital karena kebutuhan kerja akan berbeda dengan mereka yang bekerja di sektor industri padat karya dan di sektor industri padat modal,” jelas Menko Airlangga.
Untuk memperkuat kemampuan nasional di bidang semikonduktor, pemerintah telah menjalin kerja sama dengan ARM Holdings dari Inggris. Kerja sama tersebut diarahkan pada pengembangan kemampuan desain semikonduktor dan penyiapan talenta yang dibutuhkan industri.
Indonesia juga terlibat sebagai anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), sebuah wadah kerja sama internasional untuk pengembangan dan tata kelola AI.
Di tingkat ASEAN, pemerintah mendorong penguatan integrasi ekonomi digital melalui Digital Economy Framework Agreement (DEFA), yang diharapkan membuka peluang baru bagi pelaku usaha dan tenaga kerja Indonesia.
3. Talenta Digital Disiapkan untuk Menghadapi Perubahan Dunia Kerja
Pengembangan teknologi membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri. Karena itu, pemerintah turut mendorong pengembangan talenta digital melalui sejumlah program.
Langkah yang ditempuh antara lain pertukaran talenta teknologi dengan Singapura, pengembangan ekosistem perusahaan rintisan digital, program Digital Talent Scholarship, serta insentif Super Tax Deduction hingga 200 persen untuk kegiatan tertentu yang memenuhi ketentuan.
Penguatan keterampilan digital, pengolahan data, dan pemanfaatan AI menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Pemerintah berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan inovasi dan mengisi kebutuhan tenaga kerja pada industri yang semakin berbasis teknologi.
4. Energi Surya 100 Gigawatt Jadi Bidikan Pemerintah
Sektor energi hijau juga diproyeksikan menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru. Kebutuhan listrik nasional diperkirakan meningkat pada 2030 seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi dan perkembangan industri.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Presiden mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga kapasitas 100 gigawatt.
Pengembangan energi surya juga perlu disertai sistem penyimpanan energi atau battery energy storage system (BESS). Teknologi ini berperan dalam menyimpan energi agar pasokan listrik dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sesuai kebutuhan.



