HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah mengklaim Indonesia berhasil menghentikan impor produk solar setelah menerapkan kebijakan mandatori biodiesel B50. Kebijakan yang diluncurkan pada awal Juli 2026 itu disebut berpotensi menghemat devisa hingga Rp170 triliun sekaligus mendorong penyerapan tenaga kerja di dalam negeri.
Program B50 mengandalkan campuran bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dengan solar. Pemerintah berharap kebijakan ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi petani dan industri domestik.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menyebut penerapan B50 menjadi salah satu langkah penting dalam upaya mewujudkan kemandirian energi nasional.
Sebelum kebijakan tersebut diterapkan, Indonesia masih mengimpor sekitar 3 juta hingga 4 juta kiloliter solar setiap tahun. Ketergantungan itu membuat sebagian kebutuhan energi dalam negeri harus dipenuhi melalui pasokan dari luar negeri.
Namun, sejak program mandatori B50 diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Jawa Barat, pada awal Juli 2026, pemerintah menyatakan kebutuhan solar domestik dapat dipenuhi tanpa impor produk solar.
“Bayangkan kalau bahan bakar yang menggerakkan kendaraan kita berasal dari kebun petani Indonesia. Melalui B50, kita sedang membangun energi yang semakin mandiri dari sumber daya yang kita miliki sendiri dan untuk manfaat yang kembali kepada masyarakat Indonesia. Ini adalah tentang bagaimana energi yang kita gunakan hari ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia,” kata Dwi Anggia.
Melalui B50, komponen biodiesel berbasis minyak sawit ditingkatkan menjadi 50 persen dalam campuran bahan bakar. Langkah ini diharapkan memperbesar pemanfaatan sumber daya energi yang tersedia di dalam negeri.
Devisa Rp170 Triliun Disebut Bisa Dihemat
Penghentian impor solar disebut membawa dampak terhadap kebutuhan devisa negara.
Menurut pemerintah, sekitar Rp170 triliun yang sebelumnya digunakan untuk membayar impor solar kini dapat dipertahankan agar berputar di dalam perekonomian domestik.
Penghematan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong pemanfaatan biodiesel berbasis sawit secara lebih luas.
Meski begitu, besarnya penghematan devisa secara aktual tetap perlu dilihat berdasarkan realisasi impor, biaya produksi biodiesel, kebutuhan bahan baku, serta perkembangan harga energi.
Dengan berkurangnya ketergantungan terhadap produk impor, pemerintah berharap ketahanan energi nasional menjadi lebih kuat ketika pasokan dan harga energi global mengalami perubahan.
Petani Sawit Ikut Jadi Andalan
Program B50 tidak hanya berkaitan dengan pasokan bahan bakar. Kebijakan ini juga diarahkan untuk memperkuat rantai pasok industri sawit dalam negeri.
Peningkatan kebutuhan bahan baku biodiesel berpotensi memperluas pasar minyak sawit domestik. Dengan begitu, petani dan pelaku industri sawit diharapkan memperoleh manfaat dari meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk sektor energi.
Pemerintah juga menyebut penyerapan tenaga kerja meningkat dari sebelumnya 1,8 juta orang menjadi 2,1 juta orang.



