Rektor UIN Jakarta: Harkitnas 2026 Harus Jadi Momentum Bangun SDM dan Kemandirian Bangsa

0 Shares

JAKARTA – Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Asep Saepudin Jahar menegaskan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 tidak boleh hanya dimaknai sebagai seremoni sejarah, tetapi harus menjadi momentum refleksi untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia dan kemandirian bangsa menghadapi persaingan global.

“Harkitnas 2026 harus menjadi momentum memperkuat solidaritas dan soliditas bangsa dalam menetapkan langkah strategis menuju Indonesia Emas 2045,” kata Prof. Asep dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, tantangan kebangkitan nasional saat ini berbeda dengan era kolonial. Jika dulu kebangkitan ditandai kesadaran politik dan identitas kebangsaan, kini ditentukan oleh kemampuan bangsa menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan membangun solidaritas sosial di tengah perubahan global yang semakin kompetitif.

Ia menilai Indonesia memiliki modal besar berupa bonus demografi, sumber daya alam, posisi geopolitik strategis, serta kekuatan budaya dan agama. Namun seluruh potensi tersebut, kata dia, tidak akan maksimal tanpa investasi serius dalam pembangunan manusia unggul.

Karena itu, Prof. Asep mendorong revolusi pendidikan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence, big data, energi hijau, dan ekonomi digital.

“Pendidikan Indonesia tidak boleh lagi terjebak pada budaya hafalan dan administratif semata, tetapi harus mendorong kreativitas, riset, inovasi, dan kemampuan adaptif,” ujarnya.

Dalam konteks pendidikan tinggi, ia juga menyoroti capaian perguruan tinggi Indonesia di QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Theology, Divinity & Religious Studies.

Tiga kampus Indonesia berhasil masuk 50 besar dunia, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di peringkat 29 dunia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di posisi 37 dunia, dan Universitas Gadjah Mada di peringkat 45 dunia.

“Capaian ini membuktikan bahwa perguruan tinggi Indonesia, termasuk PTKIN, mampu bersaing di tingkat global apabila fokus membangun distingsi dan keunggulan akademiknya,” kata Prof. Asep.

Ia menambahkan, kebangkitan nasional juga harus diperkuat melalui penguatan industri nasional, hilirisasi sumber daya alam, ekonomi rakyat, serta penguasaan teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi negara lain.

“Bangsa yang gagal menguasai teknologi akan menjadi pasar bagi negara lain. Sebaliknya, bangsa yang mampu mengembangkan teknologi akan menjadi pemain utama dalam percaturan global,” tegasnya.

Selain itu, Prof. Asep mengingatkan pentingnya menjaga solidaritas sosial dan persatuan bangsa di tengah tantangan polarisasi politik, banjir informasi digital, intoleransi, dan ketimpangan sosial.

Menurutnya, kampus Islam, pesantren, dan PTKIN memiliki peran penting dalam melahirkan generasi Muslim Indonesia yang moderat, unggul, terbuka, dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya dan artikel berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO, & ShopeePay.

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU