HOLOPIS.COM, JAKARTA — Lari kini bukan cuma soal mengejar waktu tercepat atau menuntaskan kilometer. Olahraga yang dulu identik dengan latihan fisik kini makin lekat dengan gaya hidup, komunitas, sampai aktivitas sosial masyarakat.
Pegiat olahraga Fanny Ghassani melihat perubahan itu terjadi seiring semakin banyaknya komunitas dan kegiatan lari yang bisa diikuti berbagai kelompok usia dan kemampuan.
“Saat ini saya melihat lari sebagai olahraga yang accessible, sehingga semua orang bisa melakukannya. Lari juga sudah menjadi bagian dari lifestyle dan social culture masyarakat,” kata Fanny dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.
Dari Jogging Jadi Lifestyle
Menurut Fanny, lari sekarang punya wajah yang berbeda.
Banyak orang tidak lagi berlari semata-mata untuk menjaga kebugaran atau mengejar catatan waktu. Aktivitas tersebut juga menjadi cara untuk bertemu orang baru, bergabung dengan komunitas, hingga menghabiskan waktu bersama orang-orang yang punya minat serupa.
Perkembangan komunitas lari ikut membuat olahraga ini terasa semakin dekat dengan masyarakat.
Tak harus menjadi atlet atau punya kemampuan khusus untuk memulainya. Masyarakat dari berbagai tingkat kemampuan bisa ikut berlari sesuai kondisi masing-masing.
Komunitas Bikin Makin Seru
Perwakilan IM Road Runner (IMRR) Gatot Sudarsono mengatakan komunitas punya peran dalam membuat olahraga lari semakin terbuka.
Pelari pemula bisa berlatih bersama mereka yang sudah lebih berpengalaman. Pengalaman soal latihan, perlengkapan hingga persiapan mengikuti lomba pun bisa saling dibagikan.
“Komunitas membuat olahraga lari terasa lebih terbuka dan menyenangkan bagi berbagai kalangan,” ujar Gatot.
Fenomena ini kemudian membuat berbagai kegiatan lari semakin ramai. Ajang lari tidak hanya menjadi tempat untuk mengejar personal best, tetapi juga ruang bertemu dan berkegiatan bersama.
Jangan Asal Lari
Meski makin populer, lari tetap bukan aktivitas yang bisa dilakukan tanpa persiapan, terutama jika mulai masuk ke jarak jauh.
Head Emergency MRCCC Siloam Hospitals Semanggi dr. Jane Rosalind mengingatkan pelari untuk memperhatikan kondisi fisik sebelum mengikuti perlombaan.
Latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Hidrasi juga perlu diperhatikan, begitu pula kemampuan tubuh dalam menerima beban latihan.
“Melewati garis finis dengan aman membutuhkan persiapan yang baik, mulai dari latihan bertahap, manajemen hidrasi, hingga memastikan kondisi tubuh dalam keadaan optimal,” kata Jane.
Menurut Jane, pemeriksaan kesehatan juga dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan dan rekomendasi dokter, khususnya bagi mereka yang akan mengikuti aktivitas dengan intensitas tinggi.



