HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan konflik yang melibatkan Iran, Israel, serta Amerika Serikat (AS) kian meningkat dan memunculkan kecemasan luas, terutama terhadap aktivitas niaga antarnegara.
Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso (Busan) menyampaikan harapannya agar situasi tersebut segera mereda dan tidak berlangsung lama, lantaran dapat memicu efek domino terhadap arus ekspor-impor dunia, tak terkecuali Tanah Air.
“Harapan kita cepat selesai. Kalau sekarang kan memang kita belum tahu ya (dampaknya ke ekspor dan impor), tapi kalau berkelanjutan kan ya tidak hanya Indonesia, tapi buat semua negara pasti akan kena hal-hal (dampak) itu,” ujar Mendag Budi, sebagaimana informasi yang diterima Holopis.com, Selasa, (3/3).
Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama pemerintah ialah kemungkinan terganggunya distribusi energi internasional. Selat Hormuz merupakan jalur vital pengiriman minyak mentah dunia. Apabila akses di kawasan strategis tersebut terhambat atau bahkan dihentikan, konsekuensinya diyakini langsung terasa pada lonjakan harga crude oil global.
Menurut Budi, kenaikan tarif energi dapat memicu pembengkakan ongkos produksi di berbagai lini usaha. Sektor manufaktur, kegiatan pengapalan barang ke luar negeri, hingga banderol komoditas di dalam negeri berpotensi ikut terkerek. Peningkatan biaya logistik serta bahan baku pun bisa mengurangi daya saing produk nasional di pasar mancanegara.
Ia menuturkan bahwa komponen energi, khususnya BBM, menjadi bagian paling rawan terdampak bila situasi memburuk.
“Ya misalnya kan bahan bakar ya, pasti kan akan naik ya. Pasti kalau itu memang benar-benar terjadi, ya sekali lagi mudah-mudahan nggak ya. Kalau itu benar-benar terjadi ya memang akan berdampak ke industri kita, ke ekspor kita, tidak hanya di Indonesia, ya ke semua lah, ke semuanya,” jelasnya.
Kendati potensi ancamannya cukup besar, Budi memastikan perdagangan Indonesia sampai saat ini tetap berlangsung wajar. Pengiriman barang ke kawasan Timur Tengah juga belum memperlihatkan gangguan.
Ia menambahkan, friksi antara Teheran dan Tel Aviv sebelumnya pernah terjadi, namun kala itu tidak memberikan pengaruh langsung terhadap aktivitas ekspor-impor nasional.
“Kan kemarin juga sempat kan, Iran-Israel kan sempat yang sebelumnya ya, tapi ya mudah-mudahan cepat selesai deh, jadi nggak berlanjut. Dan kalau dulu kan memang buat kita tidak berdampak sebenarnya kemarin, yang lalu. Ini kalau mudah-mudahan paling tidak ya lebih-lebih cepat selesai,” kata Budi.




