Warga juga harus memastikan klinik yang didatangi berpartisipasi dalam program.
Informasi fasilitas kesehatan peserta dapat diperiksa melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Singapura dan HealthHub.
Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung menyebut kunjungan pasien dengan gangguan pernapasan ke unit gawat darurat dan poliklinik meningkat dibandingkan pekan sebelumnya.
Namun, kenaikan itu tidak bisa langsung dianggap seluruhnya akibat kabut asap karena bertepatan dengan musim influenza A.
Singapura bukan kali pertama menghadapi persoalan ini.
Haze Subsidy Scheme pernah diaktifkan pada 2015 ketika kebakaran hutan di kawasan regional memicu kabut asap parah.
Data HealthHub mencatat sekitar 77.000 warga memanfaatkan skema tersebut pada 2015.
Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 17.000 orang pada 2013, saat program pertama kali diperkenalkan.
Kebijakan terbaru ini kembali mengingatkan bahwa dampak kabut asap bisa melampaui batas negara.
Meski demikian, asal asap dalam kejadian kali ini harus dipastikan melalui data resmi, bukan sekadar dugaan bahwa sumbernya berasal dari Indonesia.
Di tengah ancaman polusi udara, subsidi pengobatan menjadi salah satu cara membantu masyarakat menghadapi risiko kesehatan.
Namun, solusi jangka panjang tetap membutuhkan pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta pengendalian pencemaran udara.



