Hari Tani Nasional 2026, Tantangan Petani Bukan Lagi Sekadar Bertani

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hari Tani Nasional 2026 menjadi momentum untuk melihat persoalan petani Indonesia dari sisi yang lebih luas. Tantangan petani saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menanam dan memanen, tetapi juga menyangkut regenerasi, luas lahan, perubahan iklim, teknologi, daya beli, hingga kemampuan meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang, meningkat sekitar 522 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Dari total tersebut, sektor pertanian menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar dengan 42,60 juta orang atau sekitar 28,75 persen dari total penduduk yang bekerja.

Regenerasi Petani dan Menyusutnya Lahan Jadi Tantangan

Namun, besarnya jumlah tenaga kerja tersebut belum otomatis menggambarkan kondisi seluruh petani. Persoalan regenerasi petani masih menjadi tantangan sektor pertanian Indonesia. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, yang menjadi pemutakhiran data nasional terbaru mengenai struktur petani, terdapat sekitar 29,34 juta unit usaha pertanian perorangan yang tercatat. Sekitar 70 persen di antaranya dikelola oleh Generasi X dan Baby Boomer atau berada pada kelompok usia 43 hingga 78 tahun.

Sementara itu, petani milenial berusia 19 hingga 39 tahun berjumlah 6,18 juta orang atau sekitar 21,93 persen. Adapun petani Generasi Z hanya sekitar 627 ribu orang atau 2,14 persen. Jumlah tersebut bahkan lebih sedikit dibandingkan petani Pre-Boomer berusia di atas 78 tahun. Komposisi tersebut menunjukkan dominasi petani dari kelompok usia yang lebih tua, sehingga regenerasi menjadi salah satu isu yang perlu mendapat perhatian dalam keberlanjutan sektor pertanian.

Persoalan berikutnya berkaitan dengan lahan. Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia dalam Statistik Pertanian 2024 mencatat bahwa dalam tujuh tahun terakhir, luas lahan sawah di Indonesia mengalami penurunan sekitar 803.393 hektare, dari 8.187.734 hektare pada tahun 2016 menjadi 7.384.341 hektare pada tahun 2023. Lahan yang terbatas tersebut dapat memengaruhi kapasitas produksi dan ruang petani untuk mengembangkan usaha.

Perubahan Iklim hingga Teknologi Uji Ketahanan Petani Indonesia

Di sisi lain, petani juga menghadapi perubahan kondisi lingkungan yang dapat memengaruhi kegiatan produksi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan Indonesia menghadapi sejumlah fenomena iklim global mulai April 2026, di antaranya El Nino yang kuat, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif, serta pemanasan global.

Fenomena tersebut dapat memicu kenaikan suhu dan kekeringan di sejumlah wilayah, sementara daerah lain berpotensi mengalami peningkatan curah hujan hingga banjir. Perubahan kondisi cuaca tersebut turut meningkatkan risiko gangguan terhadap produksi pertanian, termasuk gagal panen.

Untuk menghadapi perubahan kondisi tersebut, kajian BRIN menekankan penggunaan teknologi panen air, efisiensi irigasi, dan informasi iklim dalam mendukung pengambilan keputusan petani. Teknologi seperti embung, irigasi hemat air, serta pengelolaan air berbasis neraca air dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air dan menjaga stabilitas produksi.

Dari sisi kesejahteraan, indikator terbaru BPS menunjukkan kondisi daya tukar petani mengalami peningkatan. Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2026 mencapai 129,19 atau naik 1,05 persen dibandingkan Juli 2026. Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani meningkat 1,14 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani naik 0,09 persen.

BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) pada Agustus 2026 mencapai 133,33 atau naik 0,98 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pada periode yang sama, harga beras premium di tingkat penggilingan mencapai Rp15.062 per kilogram, sedangkan beras medium mencapai Rp13.897 per kilogram.

Angka tersebut menunjukkan adanya perbaikan daya tukar petani pada Agustus 2026. Namun, NTP bukan angka pendapatan bersih petani. Indikator tersebut membandingkan harga yang diterima petani dengan harga yang harus dibayar untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga dan biaya produksi.

Karena itu, kondisi petani juga perlu dilihat dari skala usaha dan biaya produksi. Dua petani dengan komoditas yang sama dapat memiliki kondisi ekonomi berbeda ketika luas lahan, produktivitas, biaya input, akses pasar, dan harga jual yang diterima berbeda.

Tantangan petani pada 2026 pun mencakup berbagai aspek, mulai dari regenerasi, ketersediaan lahan dan sarana produksi, hingga memanfaatkan teknologi dan kemampuan mengelola usaha. Akses terhadap pembiayaan dan pasar juga menjadi bagian dari ekosistem usaha pertanian yang perlu diperhatikan.

Di sisi produksi, peningkatan hasil pertanian juga berkaitan dengan kemampuan petani memperoleh nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan. Penguatan rantai pasok, pengolahan hasil, pemasaran, dan hilirisasi menjadi bagian dari upaya memperluas nilai ekonomi produk pertanian sebelum sampai ke konsumen.

Hari Tani Nasional 2026 menjadi momentum untuk melihat profesi petani tidak hanya dari kegiatan menanam dan memanen. Keberlanjutan sektor pertanian juga berkaitan dengan siapa yang akan meneruskan usaha tani, bagaimana petani menghadapi perubahan iklim dan teknologi, serta sejauh mana hasil pertanian dapat memberikan nilai ekonomi bagi pelakunya.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Vhina Noviyanti
Darin Brenda Iskarina
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Darin Brenda Iskarina

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU