HOLOPIS.COM, JAKARTA – Peringatan Hari Internasional Pengurangan Risiko Bencana pada 13 Oktober 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan pentingnya pembelajaran dari bencana masa lalu, edukasi sejak tingkat keluarga, serta kolaborasi pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi risiko.
Tahun ini, BNPB menggelar Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026 pada 13 hingga 15 Oktober di Kota Serang, Banten. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Dari Selat Sunda untuk Indonesia: Sewindu Belajar untuk Kesiapsiagaan yang Lebih Baik” dengan slogan “Ngariksa Bumi Nusantara”.
“Tidak ada upaya tanggap darurat yang bisa optimal tanpa adanya persiapan prabencana yang baik,” kata Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari dalam siaran langsung kick off Peringatan Bulan PRB 2026 melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, dikutip Holopis.com, Selasa (13/10).
Abdul menjelaskan, peringatan bulan PRB menjadi pengingat bahwa pengurangan risiko bencana membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Upaya tersebut perlu dilakukan sebelum bencana terjadi melalui edukasi, mitigasi, kesiapsiagaan, dan penguatan sistem peringatan dini.
“Poin penting di bulan PRB ini adalah menjadi ruang berbagi pengalaman, cerita, dan praktik baik dari seluruh entitas. Penanggulangan bencana di Indonesia menerapkan konsep pentahelix, yakni masyarakat, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media,” uajr Abdul.
Tema peringatan tahun ini juga merujuk pada pembelajaran dari tsunami Selat Sunda pada 2018 yang dipicu oleh runtuhan lereng Gunung Anak Krakatau (GAK). Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa tsunami dapat terjadi tanpa didahului gempa bumi yang dirasakan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, peringatan bulan PRB telah memasuki tahun ke-14 sejak pertama kali diselenggarakan pada 2013. Ia mengajak para pegiat kebencanaan memperkuat aksi nyata di tingkat komunitas dan desa, mulai dari edukasi kebencanaan, simulasi, hingga pemetaan jalur evakuasi.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Jadi Perhatian
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Lana Saria menjelaskan, aktivitas gunung api di Indonesia masih memerlukan pemantauan secara berkala. Berdasarkan data yang dipaparkannya hingga akhir September 2026, terdapat tiga gunung api berstatus Level III atau Siaga, 23 gunung api berstatus Level II atau Waspada, dan 42 gunung api berstatus Level I atau Normal.
Khusus di Banten, GAK menjadi salah satu perhatian karena aktivitasnya meningkat sejak Juni 2026. Lana mengatakan, gunung tersebut sempat naik ke Level III atau Siaga setelah mengalami erupsi menerus pada 4 hingga 6 September 2026.
Terkait potensi gempa dan tsunami di kawasan Selat Sunda, ia mengingatkan masyarakat pesisir agar tidak menunggu sirine atau informasi di media sosial ketika merasakan gempa kuat atau berlangsung lama. Menurutnya, warga harus segera menjauhi pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi sebagai langkah penyelamatan.
“Untuk masyarakat di wilayah pesisir, prinsip utama saat terjadi gempa kuat adalah ketika tanah bergetar, segera menuju tempat yang lebih tinggi,” tegas Lana.
Kondisi tersebut menurut Lana merujuk pada pengalaman tsunami Selat Sunda 2018 yang terjadi akibat proses selain gempa tektonik. Dalam peristiwa tersebut, runtuhan lereng GAK memicu tsunami sehingga masyarakat tidak dapat hanya mengandalkan getaran gempa sebagai tanda bahaya. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat perlu didukung sistem pemantauan berbagai parameter, penyebaran informasi yang cepat, dan jalur evakuasi yang dapat digunakan saat keadaan darurat.



