Ketegangan makin meningkat setelah juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengisyaratkan bahwa pesawat yang masuk atau keluar dari ibu kota Arab Saudi harus memperoleh izin dari kelompoknya.
Melalui platform X, Saree menyatakan penerbangan kemanusiaan dari dan menuju Bandara Riyadh akan diizinkan apabila mendapat persetujuan.
Pernyataan tersebut menambah ketidakpastian terhadap aktivitas penerbangan di kawasan itu.
Namun, belum ada konfirmasi independen bahwa seluruh penerbangan di Riyadh telah tunduk pada mekanisme izin yang diklaim Houthi.
Ancaman kelompok tersebut juga menyasar sektor energi.
Houthi memperingatkan para pekerja agar meninggalkan fasilitas minyak Arab Saudi.
Beberapa hari sebelumnya, kelompok itu mengklaim telah menyerang sebuah kilang minyak utama di selatan Riyadh.
Ancaman terhadap infrastruktur energi menjadi perhatian karena Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak mentah terbesar dunia.
Di tengah serangan terhadap Riyadh, Arab Saudi melancarkan serangan balasan ke Sana’a, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi.
Stasiun televisi Al-Massirah yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan dua orang tewas akibat serangan tersebut.
Badan pertahanan sipil setempat juga menyebut sejumlah titik api harus dipadamkan, termasuk di sebuah pabrik yang dilaporkan hancur.
Menurut koresponden AFP, serangan udara Saudi menyasar posisi militer yang jauh dari kawasan permukiman.
Serangan itu terjadi tidak lama setelah pendukung Houthi menggelar demonstrasi besar-besaran di Sana’a.



