Di sisi tenaga kerja, Kementerian ESDM mencatat program B50 diproyeksikan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja dan turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Peningkatan kebutuhan CPO di dalam negeri juga diharapkan dapat membantu memberikan kepastian pasar bagi petani sawit. Namun, dampaknya terhadap harga tandan buah segar (TBS) tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk biaya produksi, distribusi, dan harga komoditas global.
“Sehingga, hal ini dapat membantu memberikan kepastian pasar bagi petani sawit,” ujarnya.
Prabowo Dorong Transisi Energi Hijau
Selain mengejar manfaat ekonomi, B50 menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong penggunaan energi yang lebih beragam dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Program ini diproyeksikan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton karbon dioksida pada 2026.
Target tersebut menempatkan biodiesel sebagai salah satu instrumen dalam agenda transisi energi nasional. Pemerintah juga mendorong pengembangan program lain, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) dan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Meski begitu, manfaat lingkungan dari biodiesel tetap bergantung pada keseluruhan rantai produksinya, termasuk pengadaan bahan baku dan proses pengolahan. Karena itu, pencapaian target pengurangan emisi perlu dilihat berdasarkan perhitungan yang digunakan pemerintah.
Prabowo Buka Peluang B60 hingga B100
Pemerintah juga mulai melihat kemungkinan meningkatkan porsi biodiesel di atas B50. Pada Agustus 2026, Prabowo disebut menginstruksikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji implikasi penerapan B60 hingga B100.
Langkah tersebut menunjukkan ambisi pemerintah untuk memperbesar pemanfaatan energi berbasis sumber daya domestik. Namun, peningkatan campuran biodiesel tetap membutuhkan kajian teknis, kesiapan industri, ketersediaan bahan baku, dan perhitungan keekonomian.
Prabowo sebelumnya menegaskan bahwa target kemandirian energi Indonesia tidak seharusnya berhenti pada B40.
“Saya menuntut bahwa kemandirian energi B40 tidak cukup. Bahkan, pada saat itu, saya mendorong ke arah B100. Tapi menteri-menteri saya meyakinkan saya bahwa dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi. Jadi ini adalah suatu prestasi bangsa yang luar biasa,” ujar Prabowo pada Juli silam.
Melalui penerapan B50, pemerintah berharap Indonesia semakin mampu memenuhi kebutuhan energi dari sumber daya sendiri. Tantangan berikutnya adalah memastikan target penghematan devisa, penyerapan tenaga kerja, dan pengurangan emisi benar-benar tercapai dalam pelaksanaannya.



