Sementara itu, tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Frekuensi erupsi tersebut menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan dalam evaluasi aktivitas gunung api.
Namun, data pemantauan lainnya menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas belum terjadi secara merata pada seluruh parameter.
Badan Geologi mencatat, selama periode 21 September hingga 9 Oktober 2026, kegempaan vulkanik secara umum belum memperlihatkan peningkatan signifikan.
Rata-rata kejadian gempa masih berada di bawah lima kali per hari.
Pengukuran getaran melalui Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) serta pemantauan menggunakan tiltmeter juga belum menunjukkan perubahan yang berarti.
Dari pengamatan visual, asap kawah terlihat berwarna putih hingga hitam dengan tekanan sedang.
Ketinggiannya berkisar 5-50 meter di atas kawah.
Sementara itu, pemantauan satelit Sentinel mendeteksi emisi sulfur dioksida (SO2) sekitar 71-237,5 ton per hari.
Anomali panas tingkat rendah juga terpantau, dengan titik api terdeteksi sejak 6 Oktober 2026.
Seiring dengan peningkatan status menjadi Siaga, Badan Geologi menetapkan pembatasan aktivitas di sekitar pusat erupsi Anak Krakatau.
Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki dilarang memasuki kawasan dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Ketentuan ini bertujuan mengurangi risiko paparan langsung terhadap material vulkanik yang dapat membahayakan keselamatan.



