4 Hari Hilang Kontak di Krakatau, Rekan Sejawat Berharap 8 Orang Terdampar di Pulau

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Empat hari setelah hilang kontaknya lima jurnalis dan tiga awak kapal di kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK) sejak Senin (7/9) membuat sesama insan pers ikut cemas. Salah satunya Theresia May, rekan sejawat Yudhistiro Pranoto, pewarta foto iNews yang menjadi salah satu dari lima jurnalis yang masih dalam pencarian.

Theresia mengaku pertama kali mengetahui kabar tersebut dari grup percakapan sesama pewarta. Ia sempat mengira rekan-rekannya sedang menjalankan peliputan seperti biasa hingga kabar hilang kontak mulai ramai dibicarakan pada Senin (7/9).

“Sebenarnya aku dapat kabar di grup pewarta foto. Aku pikir itu kirain kawan-kawan mau meliput anak gunung Krakatau. Tiba-tiba langsung mengetahui, pada hari Senin itu jam 07.00 WIB mulai ribut kawan-kawan di grup, tidak ada kontak,” ujar Theresia di Bundaran HI, dikutip Holopis.com, Jumat (11/9).

Theresia mengaku mengenal sejumlah jurnalis yang masih dalam pencarian. Ia menyebut Donal Husni sebagai salah satu senior yang telah lama dikenalnya. Sementara Yudhistiro Pranoto disebut sebagai rekan sejawatnya.

“Jujurnya, aku kenal Donal Husni dulu lama, seniorku juga. Mas Yudis mungkin kami sejawat,” tuturnya.

Hingga hari keempat pencarian, Theresia mengaku masih belum percaya dengan kondisi yang terjadi. Ia tetap berharap Yudhis dan rekan-rekannya ditemukan dalam keadaan selamat.

“Sampai sekarang, sampai detik ini saya nggak percaya sih dan berharap dia terdampar kayak di filmnya Cast Away, Tom Hanks gitu ya. Di mana gitu lah, di salah satu pulau terpencil kayak gitu. Berharap minta dijemput, ditolong gitu,” katanya.

Harapan tersebut disampaikan di tengah perhatian publik terhadap keputusan rombongan yang tetap melakukan perjalanan ke wilayah Selat Sunda saat Gunung Anak Krakatau (GAK) berstatus Siaga Level III. Theresia menyayangkan adanya cibiran yang menilai para pewarta foto telah gegabah karena menjalankan tugas di wilayah tersebut.

Menurutnya, para pewarta foto memahami risiko yang dihadapi ketika menjalankan tugas di lapangan. Ia menilai keputusan untuk tetap bekerja di tengah situasi tersebut tidak berarti para pewarta foto mengabaikan keselamatan.

“Saya memahami pemikiran publik. Tapi mereka tidak tahu, bagaimana kerja pewarta foto. Kami bukannya tidak memahami risiko, tapi ini adalah profesi yang kami cintai,” ujarnya.

Di sisi lain, kondisi para korban setelah empat hari berada di laut menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Theresia. Meski begitu, ia memilih menunggu informasi resmi dari tim SAR mengenai kondisi mereka.

“Secara manusia itu saya hanya berserah. Kalau dalam melihat kehidupan, dua hari aja manusia di lautan seperti itu tanpa makanan tidak akan bertahan. Tapi ya kita tidak tahu, kita tidak bisa mendahului. Nanti mungkin tunggu rilis dari Basarnas,” tuturnya.

Kekhawatiran tersebut disampaikan Theresia saat Pewarta Foto Indonesia (PFI) bersama sejumlah insan pers menggelar doa bersama di Pos Polisi Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (11/9) mulai pukul 18.30 WIB. Kegiatan tersebut diisi dengan pembacaan Yasin, tahlil, doa bersama, serta menyalakan lilin dan mengheningkan cipta untuk delapan orang yang masih dalam pencarian.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Vhina Noviyanti
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Muhammad Ibnu Idris

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU