HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kreator di daerah kepulauan masih menghadapi kesenjangan kesempatan untuk mengembangkan bakat dan memasarkan karya. Keterbatasan akses internet, tingginya biaya logistik, hingga sulitnya menjangkau calon pembeli menjadi hambatan yang membuat potensi mereka tidak selalu berkembang menjadi sumber penghasilan.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyoroti persoalan tersebut dalam The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE). Ia menggambarkan dua perempuan muda yang memiliki kemampuan serupa, tetapi menghadapi peluang berbeda karena tinggal di lingkungan dengan akses dan fasilitas yang tidak setara.
“Bayangkan ada dua perempuan muda, satu tinggal di Jakarta dan satu lagi tinggal di salah satu pulau kecil di Maluku Utara. Keduanya memiliki bakat, bisa mendesain, bisa menciptakan nilai, dan tahu cara menggunakan komputer. Bakatnya sama, tetapi kesempatannya berbeda,” kata Sherly, dikutip Holopis.com, Minggu (25/10).
Menurut Sherly, perbedaan kesempatan itu terlihat dari fasilitas yang tersedia bagi masing-masing kreator. Perempuan muda di Jakarta, lanjutnya, dapat lebih mudah mengakses internet, mentor, pendanaan, klien, dan jaringan profesional. Sementara itu, kreator yang tinggal di pulau kecil harus menghadapi kendala infrastruktur dan pasar yang lebih terbatas.
“Maluku Utara, dengan bakat yang sama, seorang perempuan muda harus berjuang menghadapi akses internet yang tidak stabil, biaya logistik yang lebih tinggi, pasar dan jaringan yang lebih kecil, serta sulitnya akses ke klien,” ujarnya.
Menurut Sherly, tantangan tersebut berkaitan erat dengan kondisi geografis Maluku Utara yang terdiri atas lebih dari 800 pulau. Baginya, pengembangan ekonomi kreatif di wilayah kepulauan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan individu, tetapi juga membutuhkan ekosistem yang memungkinkan kreator mengembangkan dan memasarkan hasil karyanya.
Ia mengibaratkan peran pemerintah seperti menyiapkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan. Pemerintah, menurutnya, tidak dapat menentukan hasil kreativitas seseorang, tetapi dapat menyediakan kondisi agar bakat tersebut memiliki kesempatan untuk berkembang.
“Kita sebagai pemerintah tidak bisa memaksa benih itu tumbuh, yang bisa kita lakukan adalah memastikan tanahnya subur,” tutur Sherly.
Pemprov Maluku Utara Dorong Ekonomi Kreatif Jadi Sumber Penghasilan
Salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku Utara membangun ekosistem tersebut ialah memastikan pelatihan dan pendidikan ekonomi kreatif sesuai dengan kebutuhan pasar. Sherly menilai, peningkatan keterampilan harus diarahkan pada kemampuan yang dapat digunakan untuk bekerja atau menawarkan jasa, sehingga pelatihan memberikan manfaat nyata bagi peserta.
“Tidak hanya memberi mereka sertifikat, tetapi memberi keterampilan yang mau dibayar oleh orang lain,” katanya.

Namun, menurut Sherly keterampilan saja belum cukup apabila kreator tidak memiliki akses kepada orang atau pihak yang membutuhkan karya mereka. Karena itu, ia menekankan pentingnya menghubungkan pelaku ekonomi kreatif dengan calon pembeli, sektor pariwisata, serta peluang pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Selain mempertemukan kreator dengan pasar, pemerintah juga perlu mengatasi berbagai hambatan yang menghambat perkembangan ekonomi kreatif. Sherly menilai, kreator di wilayah kepulauan membutuhkan dukungan berupa akses internet yang andal, distribusi barang yang lancar, ruang kreatif, serta proses perizinan yang lebih mudah.
“Tugas kami sekarang adalah meningkatkan internet yang andal, logistik, ruang kreatif, dan perizinan yang lebih mudah,” ujar Sherly.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...