HOLOPIS.COM, JAKARTA – Peta dunia memerah, PBB memperingatkan Super El Nino 2026 berpotensi terkuat sejak 1950. Indonesia pun menghadapi ancaman panas ekstrem dan kekeringan.
Peta iklim dunia yang didominasi warna merah memicu perhatian setelah sejumlah ilmuwan memperingatkan potensi Super El Nino ekstrem pada 2026.
Fenomena ini dikhawatirkan memperparah pemanasan global, mengganggu pola hujan, hingga meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Peringatan tersebut berkaitan dengan perkembangan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani cuaca dan iklim, menilai El Nino dapat memperkuat dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Dikutip dari NDTV, sejumlah ahli iklim menyoroti penguatan fenomena ini.
Jika berlangsung sesuai proyeksi, dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor, mulai dari lingkungan, pertanian, hingga kesehatan masyarakat.
Ahli meteorologi Ryan Maue membagikan peta iklim global yang memperlihatkan dominasi warna merah di berbagai wilayah.
Visualisasi tersebut menggambarkan potensi kondisi yang lebih hangat seiring perkembangan El Nino.
Maue memperkirakan fenomena tersebut dapat bertahan hingga Februari 2027.
Sementara itu, ilmuwan iklim Zeke Hausfather menyoroti anomali suhu di wilayah Nino 3.4, kawasan Pasifik tropis yang menjadi salah satu indikator penting untuk memantau El Nino.
Menurut Hausfather, anomali di wilayah tersebut dilaporkan mencapai 3,4 derajat Celsius di atas normal.
Angka ini menunjukkan kondisi yang perlu dicermati, meskipun penilaian kekuatan fenomena tetap membutuhkan pengamatan dan analisis iklim secara menyeluruh.



